pidato = curhat

entah kenapa setiap beliau pidato gw seperti mendengar curhatan seseorang yang dikhianati dan dijauhin sama temen atau pacarnya. emang ngga ada cara lain? kesannya minta dikasihani..

 

beda kalo kita denger barack obama atau ahmadinejad yang pidato. semua orang diem untuk mendengarkan. knapa? simpel. menurut gw otak manusia itu pandai menangkap sesuatu yang menarik. entah dari intonasi suara yang menarik atau konten pidato yang menarik. tapi intonasi suara first thing comes first. kalo dari intonasi aja udah ga menarik siapa yang mau dengerin. apalagi kontennya isinya curhatan.

 

coba bayangin seorang kepala sekolah yang curhat di depan semua murid nya di saat upacara bendera hari senin.

kondisi lingkungan

1. murid-murid yang kelaperan karena belum sarapan, ngantuk karena bangun lebih pagi, bosen yang akhirnya bercanda karena bosen upacara, dan ada satu orang murid teladan yang mendengarkan di baris paling depan. murid ini sebenernya satu-satunya harapan si kepala sekolah supaya pesannya tersampaikan karena kondisi internal si murid mendukung dan dia ada eager to listen.

2. lapangan yang panas dan berdebu ditambah angin pagi-pagi yang sepoi-sepoi

3. guru-guru yang masih bete karena weekend mereka selesai sudah dan harus menghadapi senin yang membosankan. otomatis ga ada yang konsentrasi.

 

si murid teladan menunggu-nunggu apa sisi pidato si kepala sekolah. tak lama kemudian mulai lah berbicara si kepala sekolah. awalnya masih membicarakan hal formatif yang sudah amat sangat dihapal oleh sang murid. sampai akhirnya pada klimaks isi pidato kepala sekolah yang isinya keluhan mengenai betapa nakalnya murid-murid di sekolah, tidak mau belajar dan prestasi tidak meningkat, serta seluruh perilaku lainnya yang disesali si kepala sekolah. dan berakhir begitu saja tanpa ada kata penyemangat atau solusi yang solutif dari kepala sekolah.

 

hancur hati sang murid. harapannya sia-sia dan merasa sudah membuang-buang waktunya mendengarkan si kepala sekolah dan bertekad tidak akan mendengarkan lagi pada kesempatan upacara berikutnya. ia juga bertekad tidak akan berdiri di barisan paling depan lagi saat upacara.

 

hilang sudah kesempatan si kepala sekolah..

 

itu yang gw rasakan saat mendengarkan pidato sang presiden.. menyesal..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s