orang kota, orang desa.

akhir – akhir ini saya baca berita yang mengenakkan dari ibu kota ya. kayanya seminggu full ini isinya kekerasanlah, pemerkosaanlah, demolah, pembunuhanlah. gonjang ganjing kabinet lah..

dulu (kesannya udah lama bener) waktu masih di jakarta, saya baca berita kaya gini biasa aja. kaya udah wajar gitu kejadian kaya gini terjadi. saya santai-santai aja bacanya. oke call me apatis or what ever. tapi jujur deh kalo kamu juga penduduk jakarta atau kota besar lainnya, apa yang kamu rasakan pas baca berita-berita kaya gitu? biasa aja kan. karena kita terbiasa denger hal-hal menyeramkan kaya gitu setiap hari.

then lambat laun saya mulai menjauhi jakarta dan semua media elektronik yang menghubungkan saya dengan semua berita jakarta. sebulan di sukabumi saya ga ada tv di kosan dan pulang kantor udah sangat larut jadi praktis ga sempet nonton tv. paling saya nonton tv untuk liat kartun di hari minggu pagi (i love spongebob and penguins of madagascar). tiga bulan saya di semarang juga ga ada tv di kosan dan jam pulang kantor nya jauh lebih larut. tapi saya tetep baca berita lewat media internet.

sekarang lebih-lebih lagi. saya tugas jauh di baubau. nun jauh di mato. jakarta miles away from here. lalu saya denger berita ibu kota akhir2 ini. sungguh mencengangkan. berita2 yang dulu saya anggep biasa sekarang saya merinding bacanya.

1. pemerkosaan di angkot.

i dont have any idea what inside the suspect’s head. dia udah ngerusak nama semua pengemudi angkot dan membuat omset semua pengemudi angkot berkurang. seorang dosen saya yang ahli kemiskinan bikin analogi kasus ini sebagai gabungan dari kemiskinan + bobroknya transportasi + dvd porno. kalo saya pikir akan saya tambahkan sama kehebohan media dalam memberitakan berita ini. kejadian ini terjadi karena kemiskinan yang tak kunjung terselesaikan. GDP per kapita kita boleh naik tapi itu cuma dinikmati sama golongan menengah ke atas. mereka yang di bawah garis golongan menengah? sama aja kondisinya. ga ada pengaruh. kemiskinan yang mereka alami bikin satu-satunya hiburan yang bisa terjangkau adalah dvd. satu keping DVD berapa saudara-saudara? 4-6ribu ditambah beli 10 gratis 1. see?? betapa affordable nya. isinya bisa semau kita lagi. dvd apa yang paling gampang dijangkau sama para pekerja blue collar kita? dangdut dan dvd porno. ga percaya? dateng ke pedagang dvd deket terminal.

kasus ini akan menambah buruk transportasi kita. bayangkan kamu seorang ayah atau ibu yang punya anak perempuan remaja atau dewasa awal yang setiap hari menjangkau tempat aktivitasnya dengan angkot. lalu kamu baca pemberitaan heboh di media tentang kasus ini. apa yang kamu lakukan? kamu pasti akan segera mengganti moda transportasi umum yang biasa digunakan oleh anak perempuan mu kan? pastinya akan lebih milih untuk bawa mobil sendiri atau diantar sendiri pake mobil pribadi. bayangkan akan bertambah berapa banyak mobil pribadi yang akan menambah sesak jalanan ibu kota.

2. tawuran di pelajar vs wartawan.

ini berita yang bener-bener ga penting buat saya. coba bayangkan. apa yang mereka lakukan coba?? bukannya pelajar itu tugasnya belajar ya? apa yang dilakukan kepala sekolahnya? bukannya tugas mereka mengawal murid-muridnya belajar dengan benar dan mengantarkan mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. apa yang dilakukan wartawan? bukannya seharusnya mereka bikin berita yang objektif ya?

tawuran sma 6 vs sma 70 itu udah dari jaman saya masih smp loh. sampe sekarang masih juga kejadian? apa sih masalahnya? ga bisakah ada seorang change maker yang ngubah kebiasaan buruk ini. atau kalo ga bisa diubah dengan cara damai ya paksa dong buat berubah.

ditambah lagi dengan lagi-lagi pemberitaan wartawan yang berlebihan. saya cuma geleng-geleng kepala. hei anak muda. tugas kalian itu belajar bukan latihan beladiri gitu. apa sih yang dicari? gengsi? gengsi ga akan bikin kamu kaya di hari tua. apa? pride? pride bukan didapat dari tawuran! hey get your self die aja kalo masih mikir tawuran sebagai ajang pembuktian diri.

malu ga sih kalian liat sekolah kaliah diekspos segitunya sama media dengan cara yang sama sekali ga terhormat (at least in my opinion). malu ga sih kalian sama temen2 kalian nanti di universitas atau di tempat kerja saat kalian sebut almamater kalian mereka langsung outspoken “oh sma yang rajin tawuran itu ya”. even muka kalian semulus baby dan se innocent angel pasti stereotype yang pertama nempel di jidat kalian itu brutal dan barbar.

oke mari kita lihat dari sisi ilmu ekonomi. kasus ini bisa terjadi karena gabungan beberapa faktor. kebobrokan proses belajar di indonesia + mahalnya sarana pintar + kehebohan media.

pernah ga sih diknas bikin kajian seberapa efektif kurikulum mereka sekarang? ditengah gempuran film luar negeri, budaya luar, dan semua entertain luar negeri harusnya porsi pelajaran budaya lokal dan ppkn serta agama ditambah. klise memang. tapi cuma itu yang bisa dilakukan pihak sekolah dalam mengamankan anak muridnya. mau contoh nyata? sekolah saya contohnya. bukannya sombong atau riya. tapi sekolah saya berhasil membuktikan bahwa dengan pelajaran yang berimbang antara iptek dan imtaq yang sejajar menghasilkan keseimbangan otak murid2nya. menghasilkan keseimbangan emosi pula. mau liat lagi contohnya? liat sekolah2 kristen ternama di jakarta yang terkenal akan jebolannya yang super. sebut aja smak penabur, IPK, santa ursula. mereka juga porsi agamanya lebih besar dibanding sekolah2 digit (sekolah negeri dengan angka2 dibelakangnya). bukannya saya menjelek2an sekolah negeri ya tapi di mata saya sekolah negeri ga lebih dari sekedar prestige dan pride. apa? mau disebut gaul sekolahnya? apa standar gaul? sering diliput sama majalah karena ekstrakulikuler yang lebih maju? kan lagi-lagi kita dibentuk sama persepsi media.

disisi lain. coba kita liat berapa harga buku-buku bermutu yang biasa dibaca sama anak2 smu di luar negeri (di negera dengan tingkat pendidikan yang lebih maju loh ya. jangan liat afrika ato negera lain di dunia ketiga). pernah ke times book store? liat berapa harga buku2 disana? semua diatas 100ribu. coba berapa harga internetan sejam buat buka jurnal? dengan koneksi selambat di indonesia bisa butuh sekitar 2 jam untuk buka satu jurnal. ditambah habit dari anak smu indonesia yang masih miskin baca. dulu waktu sma saya suka baca majalah gatra atau tempo. temen2 saya mikir saya terlalu serius. hey. disana saya bisa liat dunia lain sedang apa. saya tau alburj sebagai gedung tertinggi ya dari majalah tempo. saya suka baca sastra seperti NH Dini, ahmad tohari, sutan takdir alisyahbana. saya malah dibilang old school. kenapa saya pilih sastra kaya gitu yang saya baca? karena itu melatih perbendaharaan kata saya akan bahasa indonesia yang baik dan benar. otak kita itu kaya gelas. kita yang memutuskan mau diisi apa. mau diisi kotor ya kotor isinya. mau diisi bersih ya bersih juga isinya. karya populer indonesia sekarang jarang yang punya gaya penulisan yang benar. hampir seluruhnya gaya percakapan populer. akibatnya kalo ga diseimbangkan ya begini hasilnya. pelajaran bahasa indonesia jadi pelajaran yang paling susah dan membosankan untuk murid2 saat ini. karena guru mereka ga mengajarkan dan menanamkan kebiasaan baca buku yang baik sejak dini. saya bersyukur punya guru2 yang mendukung dan memaksa saya untuk kembali ke jalan yang benar.

apa hubungannya dengan kasus ini. mungkin memang saya generalisasi. tapi saya rasa ini mewakili keadaan saat ini. anak2 sma dengan pengeluaran sebulan 300-500 ribu pastilah tidak akan mampu beli buku2 bermutu dengan harga selangit. mereka juga ga akan mampu buat download jurnal yang ga gratis. jadinya? apa hiburan yang paling affordable buat killing time? nongkrong, nonton dvd dan ngerokok. see?? apa output nya??membangun komunitas yang tidak sehat. akhirnya membangun lingkaran setan yang kaya sekarang ini nih. ga bisa diputuskan. sayangnya para pendidik mereka juga ga berniat untuk memutus itu.

 

kasus – kasus kaya gini hanya terjadi di ibu kota. coba kamu pergi ke kota lain yang jauh dari ibu kota. damai. kehidupan sederhana yang saling menghormati. ini lah potret masyarakat indonesia yang sebenarnya. kalo saya baca berita tentang ibu kota dari daerah saya di baubau, rasanya kaya ada dikotomi. jakarta dan baubau kaya bukan satu negara. karena kondisinya ekstrim sekali.

orang – orang kota terlalu berpikir kompleks dan ribet. beda sama orang desa.

orang kota jauh lebih tamak dari orang desa. mau liat bedanya? coba bandingkan media lokal sama media nasional. jenis pemberitaan yang diberitakan jug berbeda. media lokal cenderung menggali sampai hal yang dia butuhkan saja. beda sama media nasional. mereka akan digging sampe hal sekecil-kecilnya. sampe account twitter?? ini media gosip apa bukan sih? kok jenis beritanya sama kaya acara infotainment status selebritis. ga etis aja kalo menurut saya media digging segitu jauhnya. media bisa aja nampilin semua pribadi subjek pemberitaannya tapi wartawannya sendiri ngomong apa di akun sosial mereka ga ditampilin. ga adil kan?

lagi ya. kenapa sih suka banget wartawan koran2 nasional bikin pemberitaan bombastis nan lebay? bisa kan nyari berita yang baik-baik yang dibikin lebay. maksud saya gini. pemberitaan tentang kriminal jangan dibesar2kan. tapi pemberitaan yang baik dan meningkatkan optimisme bangsa yang dibesar-besarkan. kami para bankir punya semboyan my word is my bond. jadi kami tidak akan berbicara kalau kami tidak bisa membuktikan atau melaksanakannya. coba deh para wartawan ini berkaca dan put your self in your reader shoes. apa reaksi mereka kalo baca ini. apa reaksi mereka kalo baca itu.

 

hidup jadi lebih damai kan kalo kita baca hal-hal yang menentramkan hati??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s