It’s just a dream

Lucu ya, hampir setahun yang lalu saya menulis dengan nada yang sama. Patah hati. Lagi-lagi harus nulis tema yang sama.

Hampir setahun yang lalu saya harus menahan air mata supaya tidak jatuh di saat sedang bekerja di kantor.

Hampir setahun yang lalu saya harus menyembunyikan mata bengkak karena nangis di malam hari.

Hampir setahun yang lalu saya harus pergi mengungsi ke pinggir pantai karena tidak bisa mengendalikan gejolak hati.

Hampir setahun yang lalu saya memutuskan hal gila dengan mulai belajar freedive. Simpel. Saya butuh pelarian.

Kalau ini terjadi tiga bulan yang lalu, mungkin saya masih punya pertahanan setinggi bulan. Saya tidak akan jatuh terlalu sakit. Kamu tau?

Tidak bijak rasanya menyalahkan kamu. Tapi saya pilu.

Saya ingat salah satu sahabat yang mengingatkan untuk tidak jadi orang yang terlalu baik, polos dan mudah attached to people. Tapi bicara dengan segumpal daging di ulu hati ini sulit rasanya mendengarkan otak. Dan saya jatuh lagi. Ternyata saya memang lebih bodoh dari keledai. Selalu jatuh di tempat yang sama.

Tapi saya tidak tahu caranya untuk menghentikannya. Saya sayang.

Saya tidak pernah paham apa isi kepala kamu. Ada apa dengan ego mu. Saya tau saya tidak pernah masuk dalam kriteria itu. Mungkin sesederhana itu. Kamu ragu. Saya tau.

Ini tidak akan bisa kembali seperti semula. Kamu tau.

20140718-222729-80849403.jpg

2 thoughts on “It’s just a dream

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s