Kepingan yang terasing di lautan

IMG_7898

Untuk anak yang tumbuh kembang di tahun 90-an menuju 2000-an awal, di mana AADC adalah sebuah film wajib yang menentukan standar ke-gaul-an seseorang di masanya, pasti tau punch line yang menjadi judul postingan ini. Ada yang tau? Iya ini penggalan lirik lagu Pas Band yang judulnya Kesepian Kita.

Hidup ini hanya kepingan yang tersaing di lautan. Memaksa kita memendam kepedihan.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya tulis belakangan ini. Mulai dari catatan perjalanan, cerita tentang aktivitas, mimpi-mimpi, hal-hal sederhana yang menarik, sampai suara-suara di otak yang sering timbul tenggelam meminta untuk diperhatikan. Lagi-lagi saya terlalu malas untuk merangkai semua hal itu.

Saya menjadi pribadi yang sinis kepada hidup akhir-akhir ini. Saya tidak lagi sepercaya itu pada mimpi yang dulu sepertinya saya tidak bisa hidup tanpanya. Saya tidak lagi tertarik dengan perjalanan ramai hingar bingar penuh canda tawa. Saya tidak lagi semangat bertemu dengan teman-teman lama dengan segudang pertanyaan detil penuh rasa ingin tahu. Saya tidak lagi semangat berdoa panjang lebar meminta banyak hal pada Tuhan.

Kini doa saya semakin pendek. Saya tidak lagi memasukkan banyak hal di dalamnya. Hanya meminta kebahagiaan dan ketenangan hati (tentu kesehatan untuk keluarga pula). Kini saya lebih memilih untuk pergi menyendiri yang jauh bersama teman-teman baru yang tidak banyak bertanya tentang kehidupan pribadi. Kini saya lebih banyak mencoreti daftar mimpi-mimpi yang biasanya saya tulis sepanjang jalan kenangan sangking banyaknya. Kini saya lebih banyak diam dan mendengarkan sekeliling berceloteh tanpa akhir dibanding berbicara penuh semangat seperti biasanya. Kini saya berhenti mendengatkan lagu-lagu baru yang tidak lagi saya pahami nada-nadanya. Bahkan resolusi tahun 2016 belum selesai saya buat. Ini sudah bulan Juni padahal. Biasanya saya akan menuliskan barisan keinginan pencapaian yang ingin dicapai sebelum tahun sebelumnya habis dan saat tahun baru tiba saya akan menempelkannya di cermin terdekat yang dapat saya lihat setiap hari.

Aneh. Saya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Betul-betul seperti kepingan yang terasing di lautan.

Sering sekali belakangan ini saya bermimpi menjadi Peterpan yang tinggal di Neverland. Berlarian ke sana ke mari tanpa ada batasan. Atau seperti Ibunya Hiccup di film How to train your dragon yang memilih menjadi pelatih naga-naga.

Tidak, saya tidak mengeluh tentang pekerjaan saya atau kehidupan sehari-hari yang membosankan dengan rangkaian yang bisa ditebak antara rumah – stasiun -kereta berdesakan – angkutan umum ugal-ugalan – tugas kantor menjemukan – pulang dengan rute yang sama. Diulang setiap hari. Saya tidak mengeluh. Saya cukup sabar untuk menjalani semua itu.

Tapi rasanya seperti apa ya.. Seperti kosong..
Seperti kepingan plat logam tipis yang mengapung di lautan pikiran saya sendiri.
Tanpa jiwa.
Tanpa ambisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s