Happy Ending

movie_love-rosie-2014

Love Rosie, from 123movies.com

(Ternyata saya pernah menulis ini tahun 2016 lalu dan belum di-publish)

Ingat tentang bagaimana saya sangat membenci cerita roman tapi malah hobi banget nonton film roman? Sebelumnya saya pernah menulis tentang film Me Before You. Well film itu cukup menguras air mata saya untuk beberapa hal yang saya tidak bisa jelaskan. Sungguh saya juga bingung kenapa saya bisa menangis seperti itu ketika melihat akhir ceritanya. Jujur kalau dipikir-pikir, saya sudah bisa menebak cerita itu dari (hampir) setengah cerita tapi tetap saja saya menangis dan tenggorokan tercekat.

Setelah nonton film itu, salah satu sahabat baik saya (well yang cukup tau cerita drama percintaan saya yang mengenaskan), Rosa, menyarankan untuk menonton film Love, Rosie yang katanya sedikit mirip “nyesek” nya sama Me Before You. Karena kemarin saya terlalu pusing untuk pergi ke kantor (jujur saya sedikit bosan dengan rutinitas pagi yang menyebalkan di sekitar Stasiun Tanahabang yang saya kunjungi setiap hari. Semacam penyedot kebahagiaan), saya memutuskan untuk mengambil cuti satu hari dan menghabiskan hari saya di rumah untuk tidak melakukan apapun (selain membersihkan kamar saya yang saya kira setelah dibersihkan tidak juga ada perbedaan dari sebelumnya hahaha).

Menyenangkan rasanya bisa tidur di kursi di samping jendela besar, bersama kucing kesayangan. Di ruang keluarga rumah bapak ibu saya, ada jendela besar yang bisa dibuka dan langsung menuju ke taman belakang rumah. Ada tumbuhan rumput pendek setinggi kursi di samping jendela itu. Hujan sedang turun. Tidak terlalu besar. Saya pun membuka jendela dan mengeluarkan kaki saya ke arah taman dan menyentuh rumput-rumput itu. Rasanya ada kabahagiaan tersendiri ketika menggerak-gerakan kaki menyentuh rumput-rumput yang sedikit basah karena hujan dan mendengar suara tetesan air hujan dari talang air.

Jari saya mendadak kreatif dan teringat akan rekomendasi sahabat saya itu. Ya saya menonton film Love, Rosie untuk mengisi hari cuti saya.

Jujur saya benci jalan ceritanya. Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan selama itu untuk saling menyakiti satu sama lain dengan tidak berterus terang atas perasaan mereka tersebut? Mengapa ketika berurusan dengan hati segala hal menjadi rumit? Mengapa bisa mereka tidak memilih bersama dengan orang yang mereka cintai sejak awal dan alih-alih menikah dengan orang lain yang mereka sendiri tau bahwa mereka tidak cinta?

Terlalu banyak pertanyaan mengapa yang muncul di kepala saya. Kali ini saya tidak menangis. Saya benci cerita cinta berliku penuh kesalahpahaman yang membuat akhir terlalu bercabang. Mengapa tidak mereka menurunkan ego mereka dengan bertanya langsung alih-alih mengasumsikan pikiran orang lain?

Tapi karena ini film dengan cerita yang dibuat manusia, tentu saja anda bisa menebak akhirnya. Ya mereka akhirnya bersatu setelah belasan tahun salah paham terhadap cinta sejati mereka dan saling melarikan diri.

Ah saya benci cerita cinta yang rumit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s