Bung Karno dan Kota Ende

 

bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Jas Merah!

bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Jas Merah!

Maafkan saya kalau kali ini akan sarat dengan kisah sejarah. Saya memasukkan Ende dalam destinasi karena ingin sekali mengunjungi rumah pengasingan bung karno. Yep, Bung Karno diasingkan ke Kota Ende Flores oleh Belanda pada tahun 1933 karena aktivitasnya dengan Partai Nasional Indonesia yang dianggap Belanda terlalu radikal dan membahayakan posisi Belanda.

Mungkin ada yang pernah nonton film Soekarno? terlepas dari kontroversi film tersebut, paling tidak kita jadi tahu tentang sejarah salah satu proklamator kita. Di film itu diceritakan waktu Soekarno diasingkan ke Bengkulu dan akhirnya bertemu dengan Fatmawati. Sebelum diasingkan ke Bengkulu, sebenarnya Seokarno sudah pernah diasingkan ke Ende, Flores selama 4 tahun.

Bung Karno tinggal di Ende bersama Inggit Ganarsih, Ibu mertua dan dua anak angkatnya. Dalam berbagai catatan, Soekarno menggambarkan kota Ende sebagai kota mati yang dianalogikan sebagai ujung dunia. Soekarno banyak menghabiskan waktu dengan duduk di bawah pohon sukun yang dipercaya sebagai tempat Soekarno mendapatkan ilham tentang Pancasila.

Kembali ke perjalanan kami. Sebenarnya saya agak pesimis bisa masuk ke dalam Rumah Pengasingan Bung Karno, kenapa? soalnya menurut informasi, rumahnya akan ditutup pada Hari Minggu dan kalau penjaganya sedang ke tidak di lokasi. dan perjalanan kami di Ende ini jatuh pada hari Minggu. Ya sudahlah. mampir di depan rumahnya aja ga papa kali ya. kalaupun cuma bisa liat luarnya aja. Mari tidak berekspektasi banyak.

setelah perjalanan sekitar 4 jam menuju kota Ende dari Moni dan akhirnya kami makan juga setelah perjalanan panjang, sampailah di lokasi Rumah Bung Karno. Voilaaaaaaa ternyata dibuka!! yeay!! ada satu rombongan lain yang udah sampe duluan sebelum kami. tapi mereka sudah hampir selesai.

Panorama view of Bung Karno's exile home.

Panorama view of Bung Karno’s exile home.

akhirnya, yeaaaaaaaaay. Napak tilas sejarah Bung Karno..

ada dua ruang tidur dan satu ruang untuk sholat dan meditasi. di bagian belakang bangunan utama ada paviliun dan sumur yang katanya masih bisa dipakai. saya ga nyobain nimba juga sih. Nampaknya rumah ini baru dipugar. Menurut informasi, tahun 2010, empat perusahaan besar mendanai pemugaran rumah ini dengan dana CSR mereka. Nama-nama perusahaan besar ini bisa dilihat di tembok belakang. Halaman belakang enak banget buat duduk-duduk. Damai, tenang..

the backyard bench

the backyard bench

Pro Patria Dedicatio Nostra

Pro Patria Dedicatio Nostra

Selesai muter-muter, kami bergerak menuju halaman depan dan rumah ini ditutup untuk pengunjung pada hari itu. Kami resmi jadi pengunjung terakhir yang beruntung. Alhamdulillah ya..

Banyak benda-benda personal Bung Karno yang bisa kita liat di rumah ini. Beberapa surat, lukisan, benda pribadi seperti tongkat dan benda lainnya bisa dilihat. Menurut cerita, Bung Karno sering bikin semacam story board cerita teater tentang perjuangan beliau dan bangsa ini melawan Belanda. Tapi sayang, sekarang cuma sisa sedikit yang bisa diselamatkan.

IMG_1249

IMG_1254

Setelah puas di tempat ini, kami bergegas menuju garis pantai selatan Pulau Flores untuk menuju ke utara, tujuan kami berikutnya, Riung 17 pulau.

di sepanjang jalan, kami melewati Pantai Batu. Pantainya dipenuhi batuan koral warna warni yang kata orang di sana ga pernah habis dan selalu muncul dari dalam laut. Bagus deh pantainya.

Pantai Batu Warna Warni

Pantai Batu Warna Warni

take a break from a rat race

take a break from a rat race

IMG_0174

from the flores abbey road :p

from the flores abbey road :p

gorgeous hill around Ende, Flores

gorgeous hill around Ende, Flores

see you around Riung 17 Pulau, everyone!!

Selamat pagi Kelimutu

from pangeran-surga.blogspot

from pangeran-surga.blogspot

Pernah lihat uang lima ribuan jaman dulu? Kalau kamu generasi 90an, pasti pernah lihat. Itu uang pecahan 5000 yang paling saya suka. Di balik gambar pahlawannya, ada lukisan Danau Kelimutu. Danau yang terkenal dengan warna airnya yang berubah-ubah. Katanya sampai saat ini belum ada yang tau apa faktor yang menyebabkan perubahan tersebut.

Alhamdulillahnya, setelah lima belasan tahun berlalu sejak pertama kali pegang uang itu, saya berhasil menginjakkan kaki di Kelimutu.

Untuk mengunjungi Kelimutu kamu harus menginap di Desa Moni (desa terakhir yang paling dekat dengan Kelimutu). Perjalanan dari Maumere ke Moni hanya sekitar dua jam perjalanan. Sampai di Moni kami langsung menuju penginapan. Penginapan kali ini direkomendasikan oleh sahabat saya yang sebelumnya sudah pernah ke sini. Nama yang punya Om Oscar. Penginapannya masih baru jadi bangunannya ala jaman sekarang. Minimalis. Tapi jangan salah. Ranjangnya spring bed, kamar mandi ada air panasnya dan dilengkapi dengan kelambu anti nyamuk di ranjangnya. Homey bgt pokoknya. Penginapan ini juga dekat dengan warung makan yang lumayan enak dan halal. Saya rekomendasi banget penginapan ini. Rate nya sekitar 200ribu/malam.

ini kasurnya. lucu kan. romantis gimana gitu..

ini kasurnya. lucu kan. romantis gimana gitu..

Sampai di Moni kami makan dulu dan diskusi mengenai rencana naik Kelimutu besok paginya. Oh iya, Bang Jodi ngasih tau, tradisi di Flores kalo lagi makan belum selesai jangan minum dulu. Kalo udah keburu minum udah dianggap selesai dan ga boleh makan lagi. Jadi, kami berusaha ga minum sebelum selesai makan. Hahahaha.

Udara mulai dingin dan kami mulai mengantuk. Sampai jumpa Kelimutu.

Esok paginya kami berangkat pukul 04.30. cukup terlambat dari jadwal perjanjian. Hehehe. Perjalanan dari Moni sampai ke tempat parkir lokasi Kelimutu hanya sekitar 45 menit. Saya sudah deg-degan aja nih ga nyampe liat sunrisenya. Tapi katanya naik ke atas cuma 15 menit. Oke kita coba. Baju sudah pake sweater dan kerudung dari bahan pashmina supaya hangat. Memang pada awalnya cukup dingin. Tapi lama-lama ga terlalu dingin sih. Oh iya jangan lupa untuk bawa headlamp ya. Karena naiknya masih gelas dan butuh penerangan untuk keselamatan.

Saya sebenarnya lebih senang mendaki malam karena manajemen ekspektasi saya bisa mengendalikan pikiran tentang titik tujuan yang akan dicapai. Kalo malem kan kita tinggal ngeliatin langkah kaki di bawah dan mencoba terus bergerak. Kalo siang-siang akan kelihatan sejauh mana titik yang akan dituju. Kadang hal tersebut membuat saya ciut. Hehehe.

Untungnya sampai di atas matahari belum sepenuhnya muncul. Kami berdoa supaya tidak mendung dan dapat melihat sunrise dengan sempurna. Sekitar 20 menit kemudian… taraaaaaaaaaaa

cantik kan!!!

cantik kan!!!

The one that I love, the sun is rises!!! Perlahan kami melihat Danau Kelimutu yang berwarna warni. Tiga kawah danau dengan warna yang berbeda. Lokasi danau ini tidak berada di satu garis lurus dari titik pemantauan. Dua berjejer segaris dan satu lagi membelakangi pos pemantauan. Jadi kalau mau dapet foto lengkap tiga danau, harus pake drone atau dji phantom.

sunrise selalu membuat muka cerah tanpa sentuhan kamera 360. hahaha

sunrise selalu membuat muka cerah tanpa sentuhan kamera 360. hahaha

doing some fushion, they said.

doing some fushion, they said.

Saya cuma bisa menganga. Diam. Terharu. Akhirnya berhasil melihat salah satu tempat ajaib di Indonesia.

Lari sana sini, pose sana sini dan berusaha mengabadikan setiap titik. Ga sering-sering kan bisa ke sana. Hehehe.

DSCF0243

DSCF0259

my heart draws a dream. yeaaah.

my heart draws a dream. yeaaah.

DSCF0296

in front of the other lake. i can say, this one is the most mystic than the other. i dont know why.

in front of the other lake. i can say, this one is the most mystic than the other. i dont know why.

Di pos pemantauan ini ada beberapa orang om dan tante yang jualan kopi atau pop mie. Kalau ada waktu, boleh kok mampir beli dagangan mereka sambil berbincang-bincang. Rosa, sahabat saya, menitipkan sebungkus kopi Toraja untuk om …. Penjual kopi yang menemaninya waktu solo traveling ke Kelimutu. Kemudian saya mencari beliau untuk menyerahkan titipan Rosa tersebut. Akhirnya kami membeli dagangan beliau sekalian dan memandangi Kelimutu sekali lagi.

Kata Wikipedia,  Informasi tentang Kelimutu itu seperti ini,
Kelimutu merupakan gabungan kata dari “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna – warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau “Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Puas liat Danau Kelimutu dari berbagai sisi, akhirnya kami turun untuk bergerak ke Ende dan meneruskan perjalanan. Sampai ketemu di Ende  🙂

sumringah kan muka-muka kami. hehehe

sumringah kan muka-muka kami. hehehe

DSCF0298