I Left My Heart at Wae Rebo!

IMG_1781

— catatan perjalanan Flores Overland —

(Spoiler, mungkin ini akan jadi tulisan saya yang paling panjang seputar perjalanan di Flores)

Jam di mobil kami menunjukkan pukul 15.30 ketika memasuki Kota Ruteng. Agenda kami di kota ini cukup padat. Saya harus ke ATM untuk menyelesaikan beberapa urusan pembayaran akhir bulan. Kami perlu mampir ke rumah makan untuk membeli ransum makan malam karena di desa tujuan kami berikutnya tidak ada rumah makan. Kami juga harus ke swalayan terdekat untuk membeli perbekalan. Sedangkan kami harus mengejar matahari sebelum tenggelam untuk sampai ke Cancar. Apabila sampai Cancar matahari sudah terlanjur turun, kami tidak bisa melihat apapun.

Setelah semua urusan di kota selesai, kami segera mengarah ke Cancar. Sebenarnya sepanjang perjalanan di Kota Ruteng ini cukup indah. Banyak lokasi sawah-sawah yang cantik. Tapi sayang kami harus mengejar matahari sebelum tenggelam. Setelah adegan ngebut-ngebutan oleh pembalap handal kami, Bang jodi, akhirnya sampai juga di Cancar.

Cancar, Ruteng, Flores

Cancar, Ruteng, Flores

Apa sih Cancar ini? Jadi Cancar ini terkenal dengan lokasi pesawahan yang berbentuk sarang laba-laba. Sawah di beberapa daerah lainnya di Indonesia, biasanya berbentuk kotak, persegi atau berundak-undak dengan bentuk yang jelas entah itu kotak atau persegi panjang. Tapi di Cancar ini lain, bentuknya seperti pizza bulat yang dipotong segi tiga sama kaki. Kata Marsya, Cancar ini kaya setting lokasi syuting Lord of the Rings bagian Middle Earth. hahahaha.

IMG_0320

Untuk sampai di Cancar, dari kota Ruteng, perlu perjalanan sekitar 45 menit ke kaki bukit kemudian mendaki sebentar sekitar 15 menit. Ga terlalu jauh kok. Cuma agak curam. Itu yang bikin ngosngosan. Sampe di atas… taraaaaaa… ajaib banget..

DSCF0671

Selesai dari Cancar, matahari semakin redup, kami segera melaju ke Denge. Perjalanan kami masih sangat jauh ditambah Bang Jodi sakit gigi. Well, kami cuma berharap bisa sampe Denge dengan selamat. aamiin.

Perjalanan menuju Denge ini agak spooky. sepi. hutan semua. Sampe di suatu titik di mana saya pengen pipis banget tapi pastinya ga ada kamar mandi. Akhirnya memberanikan diri untuk pipis di balik batu besar. Apa yang bikin takut? ular saudara-saudaraaa. mana itu malem-malem gelap di tengah hutan. Untungnya tidak sepanjang jalan kami melewati hutan. Kami sempat melewati desa kecil yang sedang ada hajatan. Kami berhenti sebentar karena ingin melihat bintang bertaburan. Kami penasaran pengen foto milky way. Akhirnya Dika, kembali naik ke atap mobil untuk mencoba peruntungan mengambil gambar milky way. Saya bagian telpon ke teman saya di Makassar yang lagi trip juga ke selayar. Nanya teknis settingan kamera supaya bisa nangkep si milky way. Ternyata susah. hahahaha.

Perjalanan pun dilanjutkan. Saya tidak ingat banyak karena tertidur. Seingat saya, Bang Josi sempat beberapa membanting stir menghindari lobang dan jurang. Hujan lebat di beberapa titik dan pembicaraan tidak terlalu jelas dengan teman Bang Jodi.

Akhirnya pukul 11 malam, kami sampai di penginapan di Denge. rasanya saya ingin sujud sukur. Pengen banget mandi dan naro punggung, sekedar meluruskan pinggang dan kaki. Kami akhirnya makan malam setelah sekian lama menanti sampai di lokasi penginapan. Ditemani Pak Blasius, pemilik penginapan, kami makan makanan yang kami beli di Kota Ruteng tadi sore. Beliau bercerita medan ke Wae Rebo dan berbagai tips untuk mendaki ke sana. Beliau ini adalah seorang putra daerah Wae Rebo yang mengembangkan sarana pendukung wisatawan di Desa Denge. Desa Denge ini adalah desa terakhir yang bisa dicapai mobil sebelum akhirnya para pengunjung harus berjalan kaki sampai ke Wae Rebo. Pak Blasius bercerita bahwa medan cukup berat dan kami harus bangun pagi-pagi supaya sempat untuk turun ke bawah sebelum sore. Pada awalnya kami berniat untuk menginap di atas, tapi karena ingin mengejar Pulau Kanawa, kami harus mengorbankan menginap di Wae Rebo dan melakukan perjalanan satu hari.

Beliau bercerita bahwa medan sangat licin dan banyak pacet. Saya sempat begidik. Alam, salah satu peserta trip, adalah orang yang paling suka gombal, kalo ngomong selalu diserempetin masalah hati, menimpali Pak Blasius “Banyak ga pak pacet nya?” Kata Pak Blasius “Ga papa kok pacetnya nanti kalo udah puas juga dia jatuh sendiri, kalian juga harus nemuin pacet, pacet batin, supaya ngisep terus di hati” eaaaaaa yak eeee.. kenapa dia jadi ikutan gombal. hahahaha.

Setelah makan dan mandi, kami pun tidur, bersiap untuk perjalanan jauh esok hari. Kami harus bangun pagi-pagi. Esoknya, pukul 5.30 saya sudah bangun dan bersiap. Pak Blasius sudah membuatkan kami sarapan. Pukul 6.30 kami bersiap untuk naik. Persiapan kami sudah sangat lengkap, mulai dari coklat penambah energi, madu, air mineral, permen sampe sepatu olah raga (yang kemudian saya sesali karena licin bangeeet jadinya kalo pake running shoes. hahahahaha). Tebak, guide kami pake apa? cuma SENDAL JEPIT tanpa bawa apa-apa lagi. Luar biasa ya..

Perjalanan dimulai. Pendakian dari Desa Denge sampe ke pos satu lumayan panjang, mendaki terus tanpa ada bonus track datar. Sulit rasanya menyesuaikan langkah dengan sang guide. Napas saya memburu. Sampai di pos 1 kami beristirahat sebentar untuk minum. Bersama grup kami, ada sepasang wisatawan asing yang juga akan naik ke Wae Rebo.

Pos satu, muka masih pada sumringah..

Pos satu, muka masih pada sumringah..

Pos satu menuju pos dua ini lebih sulit lagi. Kenapa? semakin masuk ke dalam, hutan semakin rapat, tanah semakin licin dan diselingin beberapa kali gerimis, dan akhirnya pacet itu pun menyerang saya. hahahaha. padahal kaki udah ketutup rapet. tetep aja ada dua pacet yang berhasil masuk ke dalem kaos kaki.

Pos dua ke pos tiga sedikit lebih mudah, banyak bonus track di beberapa titik dan saya bisa melihat sudah sejauh apa perjalanan. hope management penting untuk masa seperti ini. saya butuh harapan untuk bisa terus naik. hahahaha.

Pos Dua, mau senyum aja kudu dipaksa dulu. Energi udah abis.. hahaha

Pos Dua, mau senyum aja kudu dipaksa dulu. Energi udah abis.. hahaha

Ini dia bonus yang akan kamu dapatkan ketika berhasil mencapai pos 2.

Ini dia bonus yang akan kamu dapatkan ketika berhasil mencapai pos 2.

Jalur mulai datar dan berkelok-kelok mengikuti bentuk gunung yang kami sisiri. Lama-lama di kejauhan, di sebuah tikungan, Kerucut-kerucut hitam mulai terlihat samar-samar di balik awan. yeaaaaaaaaay itu Wae Rebo udah keliatan. Saya sedikit mempercepat langkah.

Sampai di pos terakhir, kami perlu diam sebentar untuk membunyikan kentongan sebagai penanda ke desa bahwa ada pengunjung, kalau di bawah sudah siap, mereka akan membunyikan balasan dan kami baru boleh turun. Lumayan buat istirahat dan ngatur napas.

Semacem pintu masuk, para tamu harus membunyikan kelontong agar didengar warga desa, apabila diijinkan, maka tamu boleh masuk  ke desa.

Semacem pintu masuk, para tamu harus membunyikan kelontong agar didengar warga desa, apabila diijinkan, maka tamu boleh masuk ke desa.

Lalu kami berjalan sedikit dan taraaaaaaaaa. Terhampar di depan kami, tujuh rumah adat Wae Rebo yang ikonik. Saya dan Marsya langsung duduk di depan rumah paling besar. Mau copot rasanya kaki kami. Total perjalanan kami dari Desa Denge sampai  ke Wae Rebo sekitar 3 jam 30 menit, pace yang lumayan cepat untuk pemula. Untungnya kami ga sampe empat jam lebih.

Maafkan muka kami ya pemirsa.. ga bisa dikontrol. capek banget..

Maafkan muka kami ya pemirsa.. ga bisa dikontrol. capek banget..

Seluruh tamu diarahkan ke rumah yang paling besar. Rumah ini adlaah rumah kepala desa yang digunakan untuk menerima tamu desa. Beliau berbicara sebentar dalam bahasa Manggarai yang tidak kami pahami. Kemudian kami diarahkan menuju salah satu rumah yang digunakan untuk singgah para tamu. Di rumah ini para tamu akan makan dan menginap.

Kami langsung berkeliling Wae Rebo. Ngapain? cari spot foto dong.. hehehehe.

Majestic Wae Rebo

Majestic Wae Rebo

Sebagian besar warga di Waerebo ini berkebun kopi. Kopinya enak, cenderung light dan ga sepahit kopi Sumatra dan tidak seasam kopi Toraja. Rumah adat Wae Rebo disebut Mbaru Niang. Jumlahnya ada tujuh dan tidak dapat ditambah. Dalam satu rumah, terdapat beberapa keluarga yang menempati rumah tersebut. Mereka berbagi kamar-kamar dengan keluarga lain. Dalam satu rumah kerucut, terdapat tiga tingkat. Lantai paling dasar digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Lantai kedua untuk menyimpan hasil kebun dan peralatan rumah. Lantai paling atas digunakan untuk menyimpan sesaji.

Akhirnya, Mas Katon Bagaskara, saya tau bagaimana rasanya nyanyi Negeri di Awan :)

Akhirnya, Mas Katon Bagaskara, saya tau bagaimana rasanya nyanyi Negeri di Awan 🙂

Cerita di balik pelestarian rumah adat Wae Rebo ini cukup heroik. Sampai tahun 2010, Mbaru Niang ini belum banyak diketahui orang. Tidak banyak rekam jejak tentang Wae Rebo di dunia maya. Sampai salah satu arsitek, Yori Antar memulai misi menemukan kembali Wae Rebo. Saat itu, hanya tersisa 4 Mbaru Niang yang berdiri, tiga sisanya dalam keadaan rusak berat. Yori kemudian memutuskan untuk membuat gerakan Rumah Asuh untuk mencari donatur agar rumah-rumah tersebut kembali berdiri. Misinya berhasil, tahun 2012, Unesco menjadikan Wae Rebo sebagai salah satu World Heritage.

Ibu-ibu Waerebo dan biji kopi legendaris, Flores Bajawa.

Ibu-ibu Waerebo dan biji kopi legendaris, Flores Bajawa.

Mbaru Niang ini juga sebenarnya menganut konsep yang sama dengan cara membagi sawah di Cancar. Menurut ibu yang saya temui di kaki bukit Cancar, Suku Manggarai membagi segala sesuatu yang mereka punya dengan cara mengiris berbentuk segitiga sama kaki, alih-alih membagi dengan cara kotak persegi.Menurut mereka pembagian ini akan lebih adil.

Cuaca sedang tidak terlalu bersahabat dengan kami, beberapa kali kami harus berteduh karena hujan kembali mengguyur Wae Rebo. Setelah selesai bermain bersama anak-anak Wae Rebo (seru banget mereka, nyanyi, makan coklat, gelendotan, minta gendong.. banyak lah..), foto-foto, keujanan, akhirnya saya makan, jangan khawatir, semua tamu yang mengunjungi Wae Rebo akan disediakan makanan khas. Entah apa namanya, banyak macamnya mulai dari lauk, sayur dan kerupuk. Yang pasti semuanya enaaaaak.

Mana giginya??? (malah nunjukin choki choki)

Mana giginya??? (malah nunjukin choki choki)

Ini anak-anak tourist friendly sekali. pangku, nyanyi, minta gendong, ga pake malu-malu

Ini anak-anak tourist friendly sekali. pangku, nyanyi, minta gendong, ga pake malu-malu

Sayang kami harus segera turun karena kami harus mengejar perjalanan menuju Labuan Bajo. Para guide juga tidak menyarankan untuk melakukan perjalanan menembus hutan Wae Rebo ketika hari terlalu sore. Maka kami segera bergerak turun. Perjalanan turun tidak juga menjadikan track lebih bersahabat. Hujan gerimis semakin sering turun, menjadikan track kami sangat licin. Harus menggunakan bantuan tongkat kayu supaya tidak jatuh tergelincir.

saran, bawalah trekpole atau kayu yang kokoh buat pegangan. disclaimer : penuh pacet!!

saran, bawalah trekpole atau kayu yang kokoh buat pegangan. disclaimer : penuh pacet!!

Perjuangan kembali kami lalui.. kaki udah tremor, pegel, mau copot rasanya.. akhirnya sampe lagi di Desa Denge sekitar jam 5 sore. Kaki saya benar-benar tidak bisa digerakkan. hahahahahaha. Saya dan Marsya lebih banyak menyeret kaki dibandingkan berjalan dengan semestinya. Tapi yang pasti, perjalanan jauh dan melelahkan ini tidak sia-sia. Saya tidak pernah menyangka akan bisa menginjakkan kaki di sana dan bermain dengan anak-anak Wae Rebo!!

Wae rebo..

Wae rebo..

Wae rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Wae rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Karena jauh dan susah mau ke sini, jangan pernah malu-malu foto all out. hahahaha

Karena jauh dan susah mau ke sini, jangan pernah malu-malu foto all out. hahahaha

we made it!!

we made it!!

Terima kasih ya Allah atas kesempatannya bisa liat negeri indah banget gini.. ga nolak kalo ada yang bayarin ke sini lagi. hehehe

Terima kasih ya Allah atas kesempatannya bisa liat negeri indah banget gini.. ga nolak kalo ada yang bayarin ke sini lagi. hehehe

Pengalaman ini yang akhirnya membuat saya mengadakan program #BukuBuatWaerebo. Saya tidak sampai hati membayangkan mereka harus berjalan sejauh ini untuk belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Desa Denge yang menjadi desa terakhir tumpuan mereka, harus ditempuh dengan medan yang tidak mudah dan waktu tempuh yang tidak sebentar.

Saya benar-benar meninggalkan hati saya di sana. Saya akan kembali lagi ke Waerebo untuk langkah yang lebih nyata.

Akhirnya jam 17.30 sampe penginapan lagi dengan keadaan kaki ga bisa digerakin. cuma bisa diseret. hahahaha

Akhirnya jam 17.30 sampe penginapan lagi dengan keadaan kaki ga bisa digerakin. cuma bisa diseret. hahahaha

Fascinating Bena Village at Bajawa, Flores!

Selamat datang dI Nusa Tenggara Timur

Selamat datang dI Nusa Tenggara Timur

Tujuan berikutnya setelah menghitamkan diri di Riung adalah Wae Rebo. Perjalanan Riung menuju Wae Rebo ini jauuuuuuuh bgt. Berangkat jam 3 sore sampe Bajawa jam 7 malem. Lanjut jalan lagi jam 8 pagi dan mengarah ke Ruteng sampe di desa terakhir sebelum Wae Rebo (Desa Denge) jam 11 malem. Total 18 jam dari Riung sampe ke Denge.

Dengan alasan keamanan dan menikmati perjalanan (namanya juga lagi jalan-jalan kan ya, bukan acara Amazing Race), kami memutuskan untuk bermalam di Bajawa dan besok paginya baru jalan lagi menuju Ruteng.

Seingat saya, perjalanan dari Riung sampe ke Bajawa jalannya cukup bagus tapi sepi dan ga banyak pemandangan bagus kaya dari Ende ke Riung. Kenapa ga terlalu ingat juga? Karena kami semua capek abis berenang seharian di laut dan naik bukit buat foto-foto. Jadi sepanjang jalan tidur semua. hahahaha.

Sampai di Bajawa sekitar jam 7 malem. Bajawa ini hawanya lebih dingin dibangding kota-kota yang sudah kami singgahi. Dinginnya mirip kaya di Puncak lah. Saya mulai membayangkan peta Nusa Tenggara Timur yang saya beli sebelum berangkat trip. Kami pasti sedang berada di tengah-tengah Pulau Flores yang topografinya cenderung dataran tinggi.

Setelah masalah kesalahpahaman tentang hotel selesai, kami akhirnya makan. Nyari restoran khas Bajawa, tapi lama banget dan mereka kaya ga responsive. Halah pindah aja lah. Akhirnya ga jauh dari penginapan kami ada warung penyetan jawa. yeaaaay. Saya pesan apa? pastinya teh tawar panas. Minuman para dewa. hahahaha

Matahari sudah bersinar, saya dan Marsya memberanikan diri buat mandi. Airnya dingin banget dan heater di penginapan kami ga berfungsi. Well, saya sama Marsya ini sama-sama ga bisa berdamai sama udara dingin. Setelah selesai siap-siap dan sarapan super minimalis (telor rebus sama roti bakar. bahkan saya ga makan telor rebusnya. hahahaha), kami berangkat menuju Desa Bena untuk mampir sebentar dan kemudian menuju Ruteng.

Gunung Inerie dan para pengembara yang gosong.

Gunung Inerie dan para pengembara yang gosong.

Gunung Inerie

Gunung Inerie

Kota Bajawa ke Desa Bena ini tidak terlalu jauh, mungkin hanya 45 menit perjalanan. Sepanjang jalan kami melihat gunung yang cukup ikonik. Namanya Gunung Inerie (baca i-ne-ri-e). Karena di beberapa spot, gunung ini terlihat sangat cantik, kami memutuskan untuk berhenti sebentar dan … posee. hahahaha. Waktu kami turun dari mobil, ada seorang bapak-bapak yang pake sarung tenun, beliau sebenernya lagi jalan, tapi kemudian melewati kami. Beliau bertanya “Kalian sedang apa? mau kemana dan dari mana?” saya jawab “Kami dari Jakarta Bapak, mau ke Desa Bena untuk melihat-lihat. Kami ingin mengenal Flores”. Awalnya saya takut, beliau terkesan sedikit galak waktu awal berbicara, tapi kemudian beliau menjawab “Silahkan, ini tanah kalian juga, tanah Indonesia, silahkan lihat-lihat, jangan sungkan untuk minta tolong”… baik ya..

Selamat datang di Desa Bena, Flores.

Selamat datang di Desa Bena, Flores.

Desa Bena, Bajawa, Flores.

Desa Bena, Bajawa, Flores.

Dont you think this is super awesome??

Dont you think this is super awesome??

Rumah di Desa Bena, Bajawa, Flores.

Rumah di Desa Bena, Bajawa, Flores.

Dan sampailah kami di Desa Bena. Desa ini merupakan salah satu desa adat di Bajawa. Sebenarnya ada beberapa desa adat yang dapat dikunjungi, namun Bena adalah yang paling terkenal dan mudah aksesnya. Mobil wisatawan bisa masuk sampai ke pekarangan desa sehingga turis tidak perlu berjalan jauh.

Desa ini terdiri dari 40 rumah adat yang dihuni 40 kepala keluarga dan sekitar 200 penduduk. Setiap rumah, di atapnya ada semacam patung, yang menjadi penanda keluarga mereka. Ibu-ibu di Desa Bena ini berprofesi sebagai penenun. Tapi sayang tenunan mereka sudah cenderung komersil. Berbeda jauh apabila dibandingkan dengan tenun yang saya lihat di Sikka.

DSCF0646

DSCF0571

Penduduk di Desa Bena senang nyirih pinang. Jadi banyak pinang yang dijemur. Selain pinang ada kopi juga.

Penduduk di Desa Bena senang nyirih pinang. Jadi banyak pinang yang dijemur. Selain pinang ada kopi juga.

Desa Bena ini terletak di lereng bukit. Puncak tertinggi desa ini digunakan untuk tempat sembahyang. Terdapat sebuah Kapel kecil di puncak desa ini. Dari sana, kita bisa lihat Desa Bena secara keseluruhan.

Dari puncak bukit di Desa Bena.

Dari puncak bukit di Desa Bena.

Bena, Bajawa, checked!

Bena, Bajawa, checked!

Salam dari Alfonso :)

Salam dari Alfonso 🙂

Selesai melihat-lihat dan foto, saya tertarik melihat salah satu rumah yang memajang hasil tenun mereka. Warnanya cantik (maklum saya anaknya visual banget. liat yang warna warni dikit langsung kabita hehehehe). Biru muda dan merah terracotta.

Tenun Bena, Bajawa.

Tenun Bena, Bajawa. Tadinya saya ngincer yang ini, tapi baru selesai besok katanya. yah ga rejeki.

IMG_1648

IMG_9725

IMG_9728

Yeay akhirnya beli dua kain buat taplak meja. Seneng lah pasti ini ibu saya. hehehe.

Yeay akhirnya beli dua kain buat taplak meja. Seneng lah pasti ini ibu saya. hehehe.

Sang ibu maunya dipanggil mama. Beliau bercerita bahwa ibu-ibu di desa ini, bergabung dalam koperasi penenun. Pewarnaan cenderung sudah memakai pewarna sintetis namun ada juga yang masih alami (tapi harganya luar biasa mahal.. wajar sih.. kalo inget-inget ibu2 di Sikka mau ngewarnain pake pewarna alami sampe 3 tahun). Kalo di Desa Bena ini, ibu-ibu yang menenun cenderung solitaire. Mereka tidak berkelompok dan membagi tugas untuk menenun. Semua dilakukan sendiri di teras rumah mereka.

Selesai di Desa Bena, kami mengarah ke Ruteng. Mampir sebentar untuk beli sirsak hasil kebun penduduk dan mampir di Danau Ranamese. Ga turun ke bibir danau sih karena untuk turun butuh waktu yang lumayan dan banyak pacet (meeeen saya paling serem sama yang namanya pacet, lintah, ular-ularan.. makasih). Jadi kami foto dari atas aja. Danaunya juga sepi dan jadinya sedikit spooky. Kami juga mampir di Aimere, tempat pembuatan arak. Liat acara pembuatan arak dari pinang.

Pusat pembuatan arak di Aimere.

Pusat pembuatan arak di Aimere.

Perasan pinang yang siap didestilasi.

Perasan pinang yang siap didestilasi.

some where around Aimere

some where around Aimere

Selamat datang di Bumi Flores!!

Selamat datang di Bumi Flores!!

IMG_1667

Danau Ranamese

Danau Ranamese

Biasanya saya mengasosiasikan sebuah lagu yang sering saya dengar selama perjalanan sebagai soundtrack perjalanan. Kali ini soundtrack nya adalah Ed Sheeran yang judulnya Small Bump. Lagu ini diputar entah berapa kali selama perjalanan kami dari  Bajawa ke Ruteng. hahahaha..

Masih jauh ternyata Ruteng.. sampe ketemu di Denge!!

-Nulis sambil dengerin streaming live show nya eva celia. bagus banget ya suaranya. ditambah aransemen indra lesmana. leleh lah lutut-

Berkelana di Riung 17 Pulau, Flores

Flores, Overland!

Flores, Overland!

Bang Jodi (driver dan guide lokal andalan kami) melaju kendaraan kami membelah Pulau Flores dari titik selatan di Ende menuju ke Riung di Utara. Pada awalnya, Bang Malik sebagai perantara saya dengan Bang Jodi, meyakinkan kembali apa benar kami ingin mengunjungi Riung karena lokasinya yang jauh ada di utara dan jarang dikunjungi wisatawan karena jalurnya yang tidak sejalan dengan tujuan lainnya.

Jadi untuk melakukan perjalanan overland di Flores, jalur biasanya adalah jalur selatan karena sebagian besar objek terletak di daerah selatan. Mulai dari Labuan Bajo – Manggarai – Ruteng – Wae Rebo – Ende – Kelimutu atau sebaliknya.

Hasil searching saya menunjukkan bahwa di sebelah utara Flores juga ada surga tersembunyi untuk dijelajahi yaitu Riung. Riung terkenal dengan gugusan kepulauannya yang luar biasa cantik dan underwater yang masih perawan. well, sebagai seorang freediver, jiwa saya tergugah buat liat underwaternya. Jadi saya persisten sekali untuk memasukkan Riung di itinerary overland kali ini.

Seingat saya, perjalanan dari Ende menuju Riung adalah salah satu yang paling lama. Jam dua dari Ende dan sampe Riung sekitar jam 7 malam. Tapi, pemandangannya…. yang paling juara. Ini dia overland Flores yang sebenarnya. Kami benar-benar terhibur dengan pemandangan sepanjang perjalanan. Hampir setiap 500 meter sekali kami minta Bang Jodi untuk berhenti dan kami akan mengabadikan moment tersebut. Alhamdulillahnya, Bang Jodi cukup sabar. Bahkan ketika hujan turun pun kami tetap turun untuk mengambil gambar. sungguh dedikasi yang luar biasa kan. hahahaha.

Sampe naik ke atas kap mobil buat ngejar foto sunset di balik bukit dan pemandangan sabana!!

Sampe naik ke atas kap mobil buat ngejar foto sunset di balik bukit dan pemandangan sabana!!

ngejar foto ini nih..

ngejar foto ini nih..

in the middle of Ende and Riung

in the middle of Ende and Riung

Jam 7 malam kami sampai di penginapan. Lalu makan di tempat makan terdekat dari penginapan. Acara makan malam kali ini ditambah acara rapat dadakan karena mau ngubah itinerary. Kami ingin memasukkan Pulau Kanawa ke dalam tujuan destinasi sebelum sailing trip dimulai. Capek banget rasanya abis perjalanan panjang dan harus mikir. hahahaha. Selesai makan, kami tidur ga pake babibu. Soalnya besok janjian mau liat sunrise jam lima pagi. kalo bangun. aamiin.

Besoknya,
Saya dan Marsya (sahabat kuliah saya yang ikut trip ini), bangun agak terlambat. Dika, Bang Nopi dan Alam udah bangun duluan. Mereka semangat banget mau liat sunrise. hahahaha. Setelah jalan sekitar 20 menit, kami sampai di dermaga dan taraaaaaaaa sunrise di depan kami dan ternyata kami belum terlambat. yeaaay.. i can say, this is one of my best golden sunrise ever!!

warm sunrise at Riung, Flores

warm sunrise at Riung, Flores

IMG_0192

taken by ajeng karina sari

easy peasy morning

easy peasy morning

enjoy moment while it lasts :)

enjoy moment while it lasts 🙂

Matahari terbit rasanya selalu hangat. Kami duduk di dermaga sekitar satu jam dan merasa tidak pernah cukup tapi kami harus kembali ke penginapan untuk bersiap menjelajahi Riung hari ini.

Seperti apa sih Riung 17 Pulau? Riung ini termasuk dalam Taman Nasional yang terdiri dari 23 pulau kecil. Kenapa ya namanya 17 pulau? mungkin waktu didaftarin baru ditemuin 17 pulau. hehehe. Sebagian besar pulau di Riung ini tidak berpenghuni dan bentuknya berbukit. Ada Pulau Kalong, Pulau Ruton, Pulau Dua, Pulau Tiga, ga tau lagi apa amanya.. hahahaha. ga cukup satu hari menjelajahi Riung. menurut hitungan saya, mungkin butuh 3 hari full.

IMG_7028

Pulau-pulau di Riung ini cantik banget!!! landscape nya juara. kaya lukisan. gradasi pantai? jangan ditanya. Tapi arusnya cukup kenceng. Hati-hati ya kalo mau berenang di sana.

underwater view taken by dedika marlon

underwater view taken by dedika marlon

busy afternoon huh?  taken by dedika marlon.

busy afternoon huh? taken by dedika marlon.

taken by dedika marlon.

taken by dedika marlon.

taken by dedika marlon

taken by dedika marlon

Juaranya pulau apa? Pulau Ruton!! Sebenernya mirip sama Pulau Kelor di Kepulauan Komodo, tapi ini versi lebih sepi dan lebih jelas gradasi pantainya. Well, let the pictures speak more than words 🙂

View from Pulau Ruton

View from Pulau Ruton

yang pasti, Riung 17 Pulau, worth to visit when you plan to trip to Flores!!

DSCF0522DSCF0503

with a view like this, who's need an escape?

with a view like this, who’s need an escape?

let me introduce to you, Ruton Island, Riung, Flores, Indonesia

let me introduce to you, Ruton Island, Riung, Flores, Indonesia

hail to positive buoyancy body!!

hail to positive buoyancy body!!

DSCF0454

say aaaa!

say aaaa!

freediving at Riung, Flores

freediving at Riung, Flores

cheese from underwater!!

cheese from underwater!!

taraaaa! Riung 17 Pulau!

taraaaa! Riung 17 Pulau!

the happy faces!

the happy faces!

you jump, i jump!

you jump, i jump!

taken by dedika marlon. he said, this is most enormous starfish he ever seen. well around 17.

taken by dedika marlon. he said, this is most enormous starfish he ever seen. well around 17.

DSCF0429

see you again Riung!!

see you again Riung!!

super gorgeous Indonesia!

super gorgeous Indonesia!

Tips :
1. Vegetasi di Riung ini sebagian besar adalah ilalang dan jenis tanaman rambat berduri. pake alas kaki yang proper ya.
2. Di sana hampir ga ada penduduk di pulau-pulaunya. Jadi, jangan nyampah ya. bawa lagi sampah mu.

Bung Karno dan Kota Ende

 

bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Jas Merah!

bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Jas Merah!

Maafkan saya kalau kali ini akan sarat dengan kisah sejarah. Saya memasukkan Ende dalam destinasi karena ingin sekali mengunjungi rumah pengasingan bung karno. Yep, Bung Karno diasingkan ke Kota Ende Flores oleh Belanda pada tahun 1933 karena aktivitasnya dengan Partai Nasional Indonesia yang dianggap Belanda terlalu radikal dan membahayakan posisi Belanda.

Mungkin ada yang pernah nonton film Soekarno? terlepas dari kontroversi film tersebut, paling tidak kita jadi tahu tentang sejarah salah satu proklamator kita. Di film itu diceritakan waktu Soekarno diasingkan ke Bengkulu dan akhirnya bertemu dengan Fatmawati. Sebelum diasingkan ke Bengkulu, sebenarnya Seokarno sudah pernah diasingkan ke Ende, Flores selama 4 tahun.

Bung Karno tinggal di Ende bersama Inggit Ganarsih, Ibu mertua dan dua anak angkatnya. Dalam berbagai catatan, Soekarno menggambarkan kota Ende sebagai kota mati yang dianalogikan sebagai ujung dunia. Soekarno banyak menghabiskan waktu dengan duduk di bawah pohon sukun yang dipercaya sebagai tempat Soekarno mendapatkan ilham tentang Pancasila.

Kembali ke perjalanan kami. Sebenarnya saya agak pesimis bisa masuk ke dalam Rumah Pengasingan Bung Karno, kenapa? soalnya menurut informasi, rumahnya akan ditutup pada Hari Minggu dan kalau penjaganya sedang ke tidak di lokasi. dan perjalanan kami di Ende ini jatuh pada hari Minggu. Ya sudahlah. mampir di depan rumahnya aja ga papa kali ya. kalaupun cuma bisa liat luarnya aja. Mari tidak berekspektasi banyak.

setelah perjalanan sekitar 4 jam menuju kota Ende dari Moni dan akhirnya kami makan juga setelah perjalanan panjang, sampailah di lokasi Rumah Bung Karno. Voilaaaaaaa ternyata dibuka!! yeay!! ada satu rombongan lain yang udah sampe duluan sebelum kami. tapi mereka sudah hampir selesai.

Panorama view of Bung Karno's exile home.

Panorama view of Bung Karno’s exile home.

akhirnya, yeaaaaaaaaay. Napak tilas sejarah Bung Karno..

ada dua ruang tidur dan satu ruang untuk sholat dan meditasi. di bagian belakang bangunan utama ada paviliun dan sumur yang katanya masih bisa dipakai. saya ga nyobain nimba juga sih. Nampaknya rumah ini baru dipugar. Menurut informasi, tahun 2010, empat perusahaan besar mendanai pemugaran rumah ini dengan dana CSR mereka. Nama-nama perusahaan besar ini bisa dilihat di tembok belakang. Halaman belakang enak banget buat duduk-duduk. Damai, tenang..

the backyard bench

the backyard bench

Pro Patria Dedicatio Nostra

Pro Patria Dedicatio Nostra

Selesai muter-muter, kami bergerak menuju halaman depan dan rumah ini ditutup untuk pengunjung pada hari itu. Kami resmi jadi pengunjung terakhir yang beruntung. Alhamdulillah ya..

Banyak benda-benda personal Bung Karno yang bisa kita liat di rumah ini. Beberapa surat, lukisan, benda pribadi seperti tongkat dan benda lainnya bisa dilihat. Menurut cerita, Bung Karno sering bikin semacam story board cerita teater tentang perjuangan beliau dan bangsa ini melawan Belanda. Tapi sayang, sekarang cuma sisa sedikit yang bisa diselamatkan.

IMG_1249

IMG_1254

Setelah puas di tempat ini, kami bergegas menuju garis pantai selatan Pulau Flores untuk menuju ke utara, tujuan kami berikutnya, Riung 17 pulau.

di sepanjang jalan, kami melewati Pantai Batu. Pantainya dipenuhi batuan koral warna warni yang kata orang di sana ga pernah habis dan selalu muncul dari dalam laut. Bagus deh pantainya.

Pantai Batu Warna Warni

Pantai Batu Warna Warni

take a break from a rat race

take a break from a rat race

IMG_0174

from the flores abbey road :p

from the flores abbey road :p

gorgeous hill around Ende, Flores

gorgeous hill around Ende, Flores

see you around Riung 17 Pulau, everyone!!

Selamat pagi Kelimutu

from pangeran-surga.blogspot

from pangeran-surga.blogspot

Pernah lihat uang lima ribuan jaman dulu? Kalau kamu generasi 90an, pasti pernah lihat. Itu uang pecahan 5000 yang paling saya suka. Di balik gambar pahlawannya, ada lukisan Danau Kelimutu. Danau yang terkenal dengan warna airnya yang berubah-ubah. Katanya sampai saat ini belum ada yang tau apa faktor yang menyebabkan perubahan tersebut.

Alhamdulillahnya, setelah lima belasan tahun berlalu sejak pertama kali pegang uang itu, saya berhasil menginjakkan kaki di Kelimutu.

Untuk mengunjungi Kelimutu kamu harus menginap di Desa Moni (desa terakhir yang paling dekat dengan Kelimutu). Perjalanan dari Maumere ke Moni hanya sekitar dua jam perjalanan. Sampai di Moni kami langsung menuju penginapan. Penginapan kali ini direkomendasikan oleh sahabat saya yang sebelumnya sudah pernah ke sini. Nama yang punya Om Oscar. Penginapannya masih baru jadi bangunannya ala jaman sekarang. Minimalis. Tapi jangan salah. Ranjangnya spring bed, kamar mandi ada air panasnya dan dilengkapi dengan kelambu anti nyamuk di ranjangnya. Homey bgt pokoknya. Penginapan ini juga dekat dengan warung makan yang lumayan enak dan halal. Saya rekomendasi banget penginapan ini. Rate nya sekitar 200ribu/malam.

ini kasurnya. lucu kan. romantis gimana gitu..

ini kasurnya. lucu kan. romantis gimana gitu..

Sampai di Moni kami makan dulu dan diskusi mengenai rencana naik Kelimutu besok paginya. Oh iya, Bang Jodi ngasih tau, tradisi di Flores kalo lagi makan belum selesai jangan minum dulu. Kalo udah keburu minum udah dianggap selesai dan ga boleh makan lagi. Jadi, kami berusaha ga minum sebelum selesai makan. Hahahaha.

Udara mulai dingin dan kami mulai mengantuk. Sampai jumpa Kelimutu.

Esok paginya kami berangkat pukul 04.30. cukup terlambat dari jadwal perjanjian. Hehehe. Perjalanan dari Moni sampai ke tempat parkir lokasi Kelimutu hanya sekitar 45 menit. Saya sudah deg-degan aja nih ga nyampe liat sunrisenya. Tapi katanya naik ke atas cuma 15 menit. Oke kita coba. Baju sudah pake sweater dan kerudung dari bahan pashmina supaya hangat. Memang pada awalnya cukup dingin. Tapi lama-lama ga terlalu dingin sih. Oh iya jangan lupa untuk bawa headlamp ya. Karena naiknya masih gelas dan butuh penerangan untuk keselamatan.

Saya sebenarnya lebih senang mendaki malam karena manajemen ekspektasi saya bisa mengendalikan pikiran tentang titik tujuan yang akan dicapai. Kalo malem kan kita tinggal ngeliatin langkah kaki di bawah dan mencoba terus bergerak. Kalo siang-siang akan kelihatan sejauh mana titik yang akan dituju. Kadang hal tersebut membuat saya ciut. Hehehe.

Untungnya sampai di atas matahari belum sepenuhnya muncul. Kami berdoa supaya tidak mendung dan dapat melihat sunrise dengan sempurna. Sekitar 20 menit kemudian… taraaaaaaaaaaa

cantik kan!!!

cantik kan!!!

The one that I love, the sun is rises!!! Perlahan kami melihat Danau Kelimutu yang berwarna warni. Tiga kawah danau dengan warna yang berbeda. Lokasi danau ini tidak berada di satu garis lurus dari titik pemantauan. Dua berjejer segaris dan satu lagi membelakangi pos pemantauan. Jadi kalau mau dapet foto lengkap tiga danau, harus pake drone atau dji phantom.

sunrise selalu membuat muka cerah tanpa sentuhan kamera 360. hahaha

sunrise selalu membuat muka cerah tanpa sentuhan kamera 360. hahaha

doing some fushion, they said.

doing some fushion, they said.

Saya cuma bisa menganga. Diam. Terharu. Akhirnya berhasil melihat salah satu tempat ajaib di Indonesia.

Lari sana sini, pose sana sini dan berusaha mengabadikan setiap titik. Ga sering-sering kan bisa ke sana. Hehehe.

DSCF0243

DSCF0259

my heart draws a dream. yeaaah.

my heart draws a dream. yeaaah.

DSCF0296

in front of the other lake. i can say, this one is the most mystic than the other. i dont know why.

in front of the other lake. i can say, this one is the most mystic than the other. i dont know why.

Di pos pemantauan ini ada beberapa orang om dan tante yang jualan kopi atau pop mie. Kalau ada waktu, boleh kok mampir beli dagangan mereka sambil berbincang-bincang. Rosa, sahabat saya, menitipkan sebungkus kopi Toraja untuk om …. Penjual kopi yang menemaninya waktu solo traveling ke Kelimutu. Kemudian saya mencari beliau untuk menyerahkan titipan Rosa tersebut. Akhirnya kami membeli dagangan beliau sekalian dan memandangi Kelimutu sekali lagi.

Kata Wikipedia,  Informasi tentang Kelimutu itu seperti ini,
Kelimutu merupakan gabungan kata dari “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna – warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau “Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Puas liat Danau Kelimutu dari berbagai sisi, akhirnya kami turun untuk bergerak ke Ende dan meneruskan perjalanan. Sampai ketemu di Ende  🙂

sumringah kan muka-muka kami. hehehe

sumringah kan muka-muka kami. hehehe

DSCF0298