Berburu imajinasi di ujung Labuan Bajo

(iya saya tau, catatan perjalan ini terlampau jauh jedanya dengan sekuel terakhir, entah.. saya seperti sedang mencari sesuatu untuk menggerakkan saya menyelesaikan catatan ini, namun tidak juga kunjung saya temukan :p)

Just take a break from a rat race :)

Just take a break from a rat race 🙂

Saya mungkin tipe pejalan yang senang membuat rencana di awal perjalanan, saya suka membayangkan rute perjalanan, seperti ada peta imajiner di kepala saya. Rasanya menyenangkan saja. Perjalanan kali ini sebenarnya sudah disusun agar kami semua bisa menginap semalam di Waerebo dan menikmati sunrise di atas awan namun beberapa rekomendasi di dunia maya mengantarkan saya ke sebuah destinasi di ujung Labuan Bajo. Beberapa ulasan tentang destinasi ini sangat baik. Saya memang mudah tergoda hahahaha. Segera sampai di Riung, saya langsung mempengaruhi anggota perjalanan untuk memasukkan destinasi ini ke dalam jadwal kami. Bermodal kenekatan dan keyakinan semoga driver kami tidak mengutuk rencana ambisius ini.

Apa sih destinasinya? Kenapa sampai begitu keras saya ingin ‘menyempilkan’ di sela-sela jadwal? Pernah dengar tentang Pulau Kanawa? Ingat, Kanawa loh.. bukan Kenawa. kenapa? karena keduanya dua pulau yang berbeda. Kanawa di Nusa Tenggera Timur dan Kenawa di Nusa Tenggara Barat.

Pulau Kanawa

Pulau Kanawa

Apa istimewanya? Pulau ini rasanya seperti magis yang menarik saya untuk datang berkunjung. Gambar -gambar yang beredar di Google sungguh menarik dan letaknya tidak jauh dari Labuan Bajo, sepertinya sih sempat kami kunjungi. Semoga..

Menurut informasi disini ketika saya mencari sumber untuk akomodasi di Kanawa, ada tiga pilihan yang bisa kita pilih mulai dari tenda, bungalow dan cottage. Tenda bisa untuk 3 orang, bungalow lebih private untuk 2 orang dan cottage lebih premium bisa sampai 4 orang. Karena semua tipe sudah habis dan tersisa tenda, ya sudah, kami terpaksa ambil demi pengalaman baru. Well ekspektasi kami akan tenda ini sangat rendah (belajar jangan kebanyakan ekspektasi.. kalo ga sesuai biar ga kecewa hahaha), tapi ternyata jauuuuh lebih bagus. Tenda dilengkapi kasur empuk, sprei linen warna biru tua (bersih bgt spreinya), bantai 2 buah. Bagaimana kami mandi? ada empat bilik kamar mandi umum yang bisa digunakan. Airnya payau sih, yah at least bisa bilas lah.. biaya yang dibayarkan tidak termasuk sarapan jadi harus nambah bayar lagi sekitar 25 ribu per orang.

Tenda di Kanawa

Tenda di Kanawa

IMG_0374

Kami berangkat dari Labuan Bajo pukul 1 siang. Jangan lupa beli makanan bungkus ya.. Ada sebuah warung makan khas padang yang bisa diandalkan. Berangkat dari pelabuhan menggunakan kapal antar jemput dari resort. Kapal cukup besar, cuaca cukup panas dan pemandangan sekeliling saya mendadak berubah menjadi lebih magis. Landscape lautan biru, langit cerah berawan, dihiasi dengan gugusan pulau kecil-kecil dengan vegetasi khas savana kering. kuning berkilau. CANTIK PARAH!!

IMG_0383

Setelah 30 menit menyebrangi lautan, kami sampai di sebuah pulau yang baguuus bgt dengan dermaga cantik di ujungnya.. rasanya saya mau menitikkan air mata sangking bahagianya. sungguh.. selesai menurunkan barang, makan dan melihat sekeliling, kami mulai berganti kostum dengan seragam kebangsaan, baju renang. hahahaha.. well, terakhir saya kena air laut itu di Riung, jadi sekitar 4 hari yang lalu jadi wajar ya kalau kami sangat bersemangat.. Menurut cerita, kalau beruntung kami bisa bertemu dengan pari manta dan hiu jenis black tip. Ini dia yang saya cariiii.. hewan laut yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Pemandangan Kanawa dari atas bukit

Pemandangan Kanawa dari atas bukit

jadi apa yang bisa dilakukan di Pulau ini?
1. Snorkeling >> saran saya, bawa sendiri semua alat snorkel kamu, karena lebih nyaman dan menghindari risiko ga nemu tempat yang menyewakan alat-alat ini. 2. Freediving >> ada beberapa slope dinding yang bisa jadi spot freedive. Hati-hati dan jangan menyelam tanpa buddy. Arus di sekitar pulau ini saat sore hari cukup kencang, jarak pandang sangat baik dan kondisi air sangat jernih. ah surga dunia buat saya ya kaya inilah kira-kira..
3. Berburu sunset >> siapkan diri kalian untuk menyaksikan salah sunset terbaik yang pernah saya lihat. berjalanlah ke dermaga sekitar jam 5 sore untuk melihat betapa indahnya matahari tenggelam
4. stargazing!! jangan cepat tidur! setelah makan malam, berjalanlah ke pantai terdekat dan rebahan di pasir, angkat kepala kalian dan voilaaaaaaa. hamparan bintang cantik di langit. mau hunting foto slow speed milky way? bisa banget. pasirnya agak basah karena hampir pasang, bawa tikar akan lebih nyaman. tapi kalo ga bawa sekalipun, ga masalah.. hehehe
5. Berburu sunrise >> bangunlah agak pagi, sekitar jam 5 pagi dan naiklah ke atas bukit, tidak jauh dan ada jalan setapak yang bisa diikuti. duduk lah ke arah kebalikan posisi matahari tenggelam, tunggu beberapa saat dan… saya jamin kalian akan menangis bahagia melihat keindahan salah satu tempat terbaik melihat matahari terbit..
6. scuba diving >> buat yang mau coba scuba atau hobi scuba, bisa nyobain karena pihak resort menyediakan peralatan dan dive guide.
7. BERSENANG-SENANG!!!!

dan apa yang saya dapatkan selama di Kanawa?

Matahari tenggelam dengan langit berwarna merah merona.

Matahari tenggelam dengan langit berwarna merah merona.

flare sunset yang luar biasa indah di Kanawa

flare sunset yang luar biasa indah di Kanawa

Dermaga cantik

Dermaga cantik

Beberapa penyelaman menyenangkan..

Beberapa penyelaman menyenangkan..

Foto freedive yang yah cukup bagus lah ya :p

Foto freedive yang yah cukup bagus lah ya :p

Sunrise hangat yang menyenangkan

Sunrise hangat yang menyenangkan

Sedikit narsis dengan cahaya yang bikin muka lebih cerah. hahaha

Sedikit narsis dengan cahaya yang bikin muka lebih cerah. hahaha

IMG_1995

IMG_2003

Mencoba Kano

Mencoba Kano

Pemandangan luar biasa

Pemandangan luar biasa

Dan jutaaaan kebahagiaan :)

Dan jutaaaan kebahagiaan 🙂

terima kasih Kanawa 🙂 sampai ketemu lagi..

Fascinating Bena Village at Bajawa, Flores!

Selamat datang dI Nusa Tenggara Timur

Selamat datang dI Nusa Tenggara Timur

Tujuan berikutnya setelah menghitamkan diri di Riung adalah Wae Rebo. Perjalanan Riung menuju Wae Rebo ini jauuuuuuuh bgt. Berangkat jam 3 sore sampe Bajawa jam 7 malem. Lanjut jalan lagi jam 8 pagi dan mengarah ke Ruteng sampe di desa terakhir sebelum Wae Rebo (Desa Denge) jam 11 malem. Total 18 jam dari Riung sampe ke Denge.

Dengan alasan keamanan dan menikmati perjalanan (namanya juga lagi jalan-jalan kan ya, bukan acara Amazing Race), kami memutuskan untuk bermalam di Bajawa dan besok paginya baru jalan lagi menuju Ruteng.

Seingat saya, perjalanan dari Riung sampe ke Bajawa jalannya cukup bagus tapi sepi dan ga banyak pemandangan bagus kaya dari Ende ke Riung. Kenapa ga terlalu ingat juga? Karena kami semua capek abis berenang seharian di laut dan naik bukit buat foto-foto. Jadi sepanjang jalan tidur semua. hahahaha.

Sampai di Bajawa sekitar jam 7 malem. Bajawa ini hawanya lebih dingin dibangding kota-kota yang sudah kami singgahi. Dinginnya mirip kaya di Puncak lah. Saya mulai membayangkan peta Nusa Tenggara Timur yang saya beli sebelum berangkat trip. Kami pasti sedang berada di tengah-tengah Pulau Flores yang topografinya cenderung dataran tinggi.

Setelah masalah kesalahpahaman tentang hotel selesai, kami akhirnya makan. Nyari restoran khas Bajawa, tapi lama banget dan mereka kaya ga responsive. Halah pindah aja lah. Akhirnya ga jauh dari penginapan kami ada warung penyetan jawa. yeaaaay. Saya pesan apa? pastinya teh tawar panas. Minuman para dewa. hahahaha

Matahari sudah bersinar, saya dan Marsya memberanikan diri buat mandi. Airnya dingin banget dan heater di penginapan kami ga berfungsi. Well, saya sama Marsya ini sama-sama ga bisa berdamai sama udara dingin. Setelah selesai siap-siap dan sarapan super minimalis (telor rebus sama roti bakar. bahkan saya ga makan telor rebusnya. hahahaha), kami berangkat menuju Desa Bena untuk mampir sebentar dan kemudian menuju Ruteng.

Gunung Inerie dan para pengembara yang gosong.

Gunung Inerie dan para pengembara yang gosong.

Gunung Inerie

Gunung Inerie

Kota Bajawa ke Desa Bena ini tidak terlalu jauh, mungkin hanya 45 menit perjalanan. Sepanjang jalan kami melihat gunung yang cukup ikonik. Namanya Gunung Inerie (baca i-ne-ri-e). Karena di beberapa spot, gunung ini terlihat sangat cantik, kami memutuskan untuk berhenti sebentar dan … posee. hahahaha. Waktu kami turun dari mobil, ada seorang bapak-bapak yang pake sarung tenun, beliau sebenernya lagi jalan, tapi kemudian melewati kami. Beliau bertanya “Kalian sedang apa? mau kemana dan dari mana?” saya jawab “Kami dari Jakarta Bapak, mau ke Desa Bena untuk melihat-lihat. Kami ingin mengenal Flores”. Awalnya saya takut, beliau terkesan sedikit galak waktu awal berbicara, tapi kemudian beliau menjawab “Silahkan, ini tanah kalian juga, tanah Indonesia, silahkan lihat-lihat, jangan sungkan untuk minta tolong”… baik ya..

Selamat datang di Desa Bena, Flores.

Selamat datang di Desa Bena, Flores.

Desa Bena, Bajawa, Flores.

Desa Bena, Bajawa, Flores.

Dont you think this is super awesome??

Dont you think this is super awesome??

Rumah di Desa Bena, Bajawa, Flores.

Rumah di Desa Bena, Bajawa, Flores.

Dan sampailah kami di Desa Bena. Desa ini merupakan salah satu desa adat di Bajawa. Sebenarnya ada beberapa desa adat yang dapat dikunjungi, namun Bena adalah yang paling terkenal dan mudah aksesnya. Mobil wisatawan bisa masuk sampai ke pekarangan desa sehingga turis tidak perlu berjalan jauh.

Desa ini terdiri dari 40 rumah adat yang dihuni 40 kepala keluarga dan sekitar 200 penduduk. Setiap rumah, di atapnya ada semacam patung, yang menjadi penanda keluarga mereka. Ibu-ibu di Desa Bena ini berprofesi sebagai penenun. Tapi sayang tenunan mereka sudah cenderung komersil. Berbeda jauh apabila dibandingkan dengan tenun yang saya lihat di Sikka.

DSCF0646

DSCF0571

Penduduk di Desa Bena senang nyirih pinang. Jadi banyak pinang yang dijemur. Selain pinang ada kopi juga.

Penduduk di Desa Bena senang nyirih pinang. Jadi banyak pinang yang dijemur. Selain pinang ada kopi juga.

Desa Bena ini terletak di lereng bukit. Puncak tertinggi desa ini digunakan untuk tempat sembahyang. Terdapat sebuah Kapel kecil di puncak desa ini. Dari sana, kita bisa lihat Desa Bena secara keseluruhan.

Dari puncak bukit di Desa Bena.

Dari puncak bukit di Desa Bena.

Bena, Bajawa, checked!

Bena, Bajawa, checked!

Salam dari Alfonso :)

Salam dari Alfonso 🙂

Selesai melihat-lihat dan foto, saya tertarik melihat salah satu rumah yang memajang hasil tenun mereka. Warnanya cantik (maklum saya anaknya visual banget. liat yang warna warni dikit langsung kabita hehehehe). Biru muda dan merah terracotta.

Tenun Bena, Bajawa.

Tenun Bena, Bajawa. Tadinya saya ngincer yang ini, tapi baru selesai besok katanya. yah ga rejeki.

IMG_1648

IMG_9725

IMG_9728

Yeay akhirnya beli dua kain buat taplak meja. Seneng lah pasti ini ibu saya. hehehe.

Yeay akhirnya beli dua kain buat taplak meja. Seneng lah pasti ini ibu saya. hehehe.

Sang ibu maunya dipanggil mama. Beliau bercerita bahwa ibu-ibu di desa ini, bergabung dalam koperasi penenun. Pewarnaan cenderung sudah memakai pewarna sintetis namun ada juga yang masih alami (tapi harganya luar biasa mahal.. wajar sih.. kalo inget-inget ibu2 di Sikka mau ngewarnain pake pewarna alami sampe 3 tahun). Kalo di Desa Bena ini, ibu-ibu yang menenun cenderung solitaire. Mereka tidak berkelompok dan membagi tugas untuk menenun. Semua dilakukan sendiri di teras rumah mereka.

Selesai di Desa Bena, kami mengarah ke Ruteng. Mampir sebentar untuk beli sirsak hasil kebun penduduk dan mampir di Danau Ranamese. Ga turun ke bibir danau sih karena untuk turun butuh waktu yang lumayan dan banyak pacet (meeeen saya paling serem sama yang namanya pacet, lintah, ular-ularan.. makasih). Jadi kami foto dari atas aja. Danaunya juga sepi dan jadinya sedikit spooky. Kami juga mampir di Aimere, tempat pembuatan arak. Liat acara pembuatan arak dari pinang.

Pusat pembuatan arak di Aimere.

Pusat pembuatan arak di Aimere.

Perasan pinang yang siap didestilasi.

Perasan pinang yang siap didestilasi.

some where around Aimere

some where around Aimere

Selamat datang di Bumi Flores!!

Selamat datang di Bumi Flores!!

IMG_1667

Danau Ranamese

Danau Ranamese

Biasanya saya mengasosiasikan sebuah lagu yang sering saya dengar selama perjalanan sebagai soundtrack perjalanan. Kali ini soundtrack nya adalah Ed Sheeran yang judulnya Small Bump. Lagu ini diputar entah berapa kali selama perjalanan kami dari  Bajawa ke Ruteng. hahahaha..

Masih jauh ternyata Ruteng.. sampe ketemu di Denge!!

-Nulis sambil dengerin streaming live show nya eva celia. bagus banget ya suaranya. ditambah aransemen indra lesmana. leleh lah lutut-

Selamat pagi Kelimutu

from pangeran-surga.blogspot

from pangeran-surga.blogspot

Pernah lihat uang lima ribuan jaman dulu? Kalau kamu generasi 90an, pasti pernah lihat. Itu uang pecahan 5000 yang paling saya suka. Di balik gambar pahlawannya, ada lukisan Danau Kelimutu. Danau yang terkenal dengan warna airnya yang berubah-ubah. Katanya sampai saat ini belum ada yang tau apa faktor yang menyebabkan perubahan tersebut.

Alhamdulillahnya, setelah lima belasan tahun berlalu sejak pertama kali pegang uang itu, saya berhasil menginjakkan kaki di Kelimutu.

Untuk mengunjungi Kelimutu kamu harus menginap di Desa Moni (desa terakhir yang paling dekat dengan Kelimutu). Perjalanan dari Maumere ke Moni hanya sekitar dua jam perjalanan. Sampai di Moni kami langsung menuju penginapan. Penginapan kali ini direkomendasikan oleh sahabat saya yang sebelumnya sudah pernah ke sini. Nama yang punya Om Oscar. Penginapannya masih baru jadi bangunannya ala jaman sekarang. Minimalis. Tapi jangan salah. Ranjangnya spring bed, kamar mandi ada air panasnya dan dilengkapi dengan kelambu anti nyamuk di ranjangnya. Homey bgt pokoknya. Penginapan ini juga dekat dengan warung makan yang lumayan enak dan halal. Saya rekomendasi banget penginapan ini. Rate nya sekitar 200ribu/malam.

ini kasurnya. lucu kan. romantis gimana gitu..

ini kasurnya. lucu kan. romantis gimana gitu..

Sampai di Moni kami makan dulu dan diskusi mengenai rencana naik Kelimutu besok paginya. Oh iya, Bang Jodi ngasih tau, tradisi di Flores kalo lagi makan belum selesai jangan minum dulu. Kalo udah keburu minum udah dianggap selesai dan ga boleh makan lagi. Jadi, kami berusaha ga minum sebelum selesai makan. Hahahaha.

Udara mulai dingin dan kami mulai mengantuk. Sampai jumpa Kelimutu.

Esok paginya kami berangkat pukul 04.30. cukup terlambat dari jadwal perjanjian. Hehehe. Perjalanan dari Moni sampai ke tempat parkir lokasi Kelimutu hanya sekitar 45 menit. Saya sudah deg-degan aja nih ga nyampe liat sunrisenya. Tapi katanya naik ke atas cuma 15 menit. Oke kita coba. Baju sudah pake sweater dan kerudung dari bahan pashmina supaya hangat. Memang pada awalnya cukup dingin. Tapi lama-lama ga terlalu dingin sih. Oh iya jangan lupa untuk bawa headlamp ya. Karena naiknya masih gelas dan butuh penerangan untuk keselamatan.

Saya sebenarnya lebih senang mendaki malam karena manajemen ekspektasi saya bisa mengendalikan pikiran tentang titik tujuan yang akan dicapai. Kalo malem kan kita tinggal ngeliatin langkah kaki di bawah dan mencoba terus bergerak. Kalo siang-siang akan kelihatan sejauh mana titik yang akan dituju. Kadang hal tersebut membuat saya ciut. Hehehe.

Untungnya sampai di atas matahari belum sepenuhnya muncul. Kami berdoa supaya tidak mendung dan dapat melihat sunrise dengan sempurna. Sekitar 20 menit kemudian… taraaaaaaaaaaa

cantik kan!!!

cantik kan!!!

The one that I love, the sun is rises!!! Perlahan kami melihat Danau Kelimutu yang berwarna warni. Tiga kawah danau dengan warna yang berbeda. Lokasi danau ini tidak berada di satu garis lurus dari titik pemantauan. Dua berjejer segaris dan satu lagi membelakangi pos pemantauan. Jadi kalau mau dapet foto lengkap tiga danau, harus pake drone atau dji phantom.

sunrise selalu membuat muka cerah tanpa sentuhan kamera 360. hahaha

sunrise selalu membuat muka cerah tanpa sentuhan kamera 360. hahaha

doing some fushion, they said.

doing some fushion, they said.

Saya cuma bisa menganga. Diam. Terharu. Akhirnya berhasil melihat salah satu tempat ajaib di Indonesia.

Lari sana sini, pose sana sini dan berusaha mengabadikan setiap titik. Ga sering-sering kan bisa ke sana. Hehehe.

DSCF0243

DSCF0259

my heart draws a dream. yeaaah.

my heart draws a dream. yeaaah.

DSCF0296

in front of the other lake. i can say, this one is the most mystic than the other. i dont know why.

in front of the other lake. i can say, this one is the most mystic than the other. i dont know why.

Di pos pemantauan ini ada beberapa orang om dan tante yang jualan kopi atau pop mie. Kalau ada waktu, boleh kok mampir beli dagangan mereka sambil berbincang-bincang. Rosa, sahabat saya, menitipkan sebungkus kopi Toraja untuk om …. Penjual kopi yang menemaninya waktu solo traveling ke Kelimutu. Kemudian saya mencari beliau untuk menyerahkan titipan Rosa tersebut. Akhirnya kami membeli dagangan beliau sekalian dan memandangi Kelimutu sekali lagi.

Kata Wikipedia,  Informasi tentang Kelimutu itu seperti ini,
Kelimutu merupakan gabungan kata dari “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna – warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau “Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Puas liat Danau Kelimutu dari berbagai sisi, akhirnya kami turun untuk bergerak ke Ende dan meneruskan perjalanan. Sampai ketemu di Ende  🙂

sumringah kan muka-muka kami. hehehe

sumringah kan muka-muka kami. hehehe

DSCF0298

Maumere yang damai :)

walking hand in hand :)

walking hand in hand 🙂 at Bukit Nilo Maumere

Perjalanan dimulai dari Maumere. karena asal lokasi kami berbeda-beda, yang dari Jakarta berangkat bareng, sisanya dari Makassar akan ketemu di Bali dan bareng ke Maumere. Coba tebak berapa berat carrier saya? DELAPAN PULUH KILO hahahaha. Ditambah satu ransel dan satu tas untuk alat menyelam.. wedan.. untung temen-temen saya baik hati mau bantuin angkat-angkat. Bang Jodi, Supir mobil yang kami sewa selama perjalanan overland ini, sudah standby. Beliau ini oke banget. Super saya rekomendasikan kalau ada yang mau overland ke flores. Beliau sungguh helpful dan paham jiwa pejalan ekstrim macem kami. Emang sih udah ada itinerary, tapi di tengah jalan selalu berusaha menyusupkan destinasi lain yang sejalan. Dan Bang Jodi tidak keberatan untuk nganterin.

dari ini, kamu bisa liat Kota Maumere dan Pulau Lembata.

dari ini, kamu bisa liat Kota Maumere dan Pulau Lembata.

Setelah makan, kami langsung cari info di Maumere bisa ngapain. Sebenarnya tujuan pertama kami adalah Danau Kelimutu di Moni, Ende. Tapi kami memilih untuk terbang ke Maumere baru jalan darat ke Ende. Akhirnya di Maumere kami singgah di Bukit Nilo. Bukit ini lokasi Patung Bunda Maria yang sangat besar. Macem di Rio dengan patung Jesusnya. Dari bukit ini, kita bisa liat gunung Lembata di Pulau Lembata yang ada di seberang Maumere. Cantik banget. Ga lama sih di sini, langsung cabut ke lokasi selanjutnya yaitu Sikka.

Ada apa di Sikka? Sikka ini terkenal dengan perkampungan tenunnya. Well karena saya pecinta kain-kain Indonesia, pastinya menyisipkan destinasi Sikka ke daftar destinasi. Jarak Sikka dan Kota Maumere lumayan jauh. Sekitar 2 jam lebih sedikit. Tapi sepanjang jalan melewati garis pantai selatan Pulau Flores. Parah cantik banget dan SEPI! Kami lari-lari di pantai, teriak-teriak ga ada yang denger hehehe. Tapi sayang di sini pasirnya hitam.

somewhere around Sikka. kayanya di sana masih banyak pantai yang ga ada namanya, suka-suka kita aja namain apa. hahaha.

somewhere around Sikka. kayanya di sana masih banyak pantai yang ga ada namanya, suka-suka kita aja namain apa. hahaha.

Sampai di Perkampungan Tenun Sikka, kita akan disambut sama Gereja Tertua di Pulau Flores. Bangunannya masih kokoh berdiri. Kalau kalian belajar sejarah bangunan, pasti akan sadar kalau arsitekturnya mirip banget sama gereja-gereja di Eropa sana. Kembali ke tujuan utama kami, melihat proses pembuatan tenun Sikka.

Gereja Sikka, tertua di Flores. taken by dedika marlon.

Gereja Sikka, tertua di Flores. taken by dedika marlon.

Kami ditemani oleh seorang ibu ketua kelompok perkumpulan ibu-ibu penenun. Kita bisa ditunjukkan cara mereka menenun dan membayar Rp 200ribu untuk satu kelompok. Setelah setuju membayar biaya tersebut, mereka menggelar seluruh peralatan yang mereka pakai dalam proses penenunan. Pelajaran menenun dimulai.

Jadi, proses penenunan dimulai dari..

  1. Mengumpulkan buah kapas yang sudah matang. Lalu dijemur sambil dipukul-pukul di atas tikar. Kenapa harus dipukul-pukul? Kata ibu yang menjelaskan, supaya halus dan memisahkan biji-bijinya. Setelah dijemur beberapa kali dan sudah kering betul kemudian beralih ke proses kedua.
    biji kapasnya dipilin dulu pake alat ini. buat memisahkan dari kotoran-kotoran juga. ini berat banget muternya.

    biji kapasnya dipilin dulu pake alat ini. buat memisahkan dari kotoran-kotoran juga. ini berat banget muternya.

    serius ini susah banget..

    serius ini susah banget..

    bagian pukul-pukul, kami jagonya..

    bagian pukul-pukul, kami jagonya..

  2. Setelah dipukul-pukul, kapas-kapas dikumpulkan untuk diuntai menjadi benang kapas. Kapas-kapas ini dipintal dengan mesin pintal sederhana yang diputar dengan tangan. Ini susah banget menurut saya. Gimana coba tangannya si ibu bisa mengubah helaian kapas bisa jadi untanian benang kapas. Luar biasa. Saya mau niruin aja susah banget. Hahahaha

    beliau ini ahli memintal benang.

    beliau ini ahli memintal benang.

  3. Setelah dipintal, lalu benang-benang itu disusun di antara dua bambu tipis. Apa gunanya? Untuk memudahkan membentuk motif-motif. Butuh dua orang untuk menyusun benang-benang ini.

    menyusun benang katun polos.

    menyusun benang katun polos.

  4. Serelah benang-benang diuntai dan disusun, lalu diikat dengan akar rotan untuk membentuk motif.
  5. Setelah motif dibentuk, lalu direndam dalam cairan pewarna alami. Hijau dari pandan, merah dari akar pohon (aduh lupa nama pohonnya) yang dijual Cuma di Ende dan kuning dari buah. Butuh tiga tahun lamanya untuk mewarnai supaya menyerap dan tahan lama. Pewarnaan ini anti luntur. Kebayangkan kenapa mahal-mahal harganya? Soalnya susah buatnya. Warna-warna alami hanya berasal dari tumbuhan. Kalian bisa membedakan kain yang diwarnai dengan pewarna tekstil dan pewarna alami. Pewarna alami selain lebih mahal harganya, warnanya juga lebih kalem dan natural.
    proses pewarnaan alami.

    proses pewarnaan alami.

    menyusun motif setelah benang diwarnai.

    menyusun motif setelah benang diwarnai.

    masih proses menyusun motif

    masih proses menyusun motif

  6. Setelah proses pewarnaan selesai, lalu dimulai proses penenunan. Benang yang sudah disusun kemudian disatukan dengan benang lainnya, motif pun dibentuk. Kemudian dieratkan. Proses ini yang sering kita lihat dalam proses penenunan. Proses pembuatan masih sangat tradisional. Menggunakan bambu yang dikaitkan di kaki dan punggung. Punggung tidak boleh bungkuk dan kaki harus kuat menahan bambu untuk mempertahankan konstruksi kain tenun. Ini dia warisan tradisi Indonesia yang tidak boleh hilang.
    liat tuh bambunya.

    liat tuh bambunya.

    taraaaa.. ga afdol kalo ga nyobain.

    taraaaa.. ga afdol kalo ga nyobain.

    ternyata sulit..

    ternyata sulit..

    ga heran ya kalo harganya mahal banget. sekarang kalo beli karya seni, belajar jangan nawar ah. kasian liat cara buatnya.

    ga heran ya kalo harganya mahal banget. sekarang kalo beli karya seni, belajar jangan nawar ah. kasian liat cara buatnya.

Selesai melihat proses penenunan, kami belanja kain. Saya berhasil memborong tiga kain syal kecil dan satu taplak meja dengan motif khas sikka. Huhuhu tabungan pun amblas demi kain Indonesia.

Menjelang maghrib kami pun bergegas melanjutkan perjalanan menuju Moni untuk kemudian mengunjungi Danau Kelimutu yang terkenal. Sampai jumpa di Kelimutu 🙂

Trip to Flores : Flores, Negeri yang Berbunga-bunga

Pulau Lembata dari Bukit Nilo Maumere. taken by ajeng karina sari.

Pulau Lembata dari Bukit Nilo Maumere. taken by ajeng karina sari.

Saya lupa bagaimana awalnya saya berkenalan dengan daerah ini. Tepatnya saya tidak ingat pasti apa yang membawa saya akhirnya bisa menjejakkan kaki di sana. Yang saya ingat, hanya adegan pada saat saya menonton documenter ring of fire yang menceritakan petualangan keluarga Tanzil pada saat menjelajahi Indonesia dengan motor mereka. Episode musim pertama mereka sangat berkesan. Mereka mencoba menakhlukkan gugusan kepulauan bagian Selatan Indonesia. Mulai dari Kupang sampai ke Jakarta. Saya tidak pernah absen untuk menyaksikan petualangan mereka. Bagian mana yang paling membekas? Pulau Flores dan Nusa Tenggara Timur secara keseluruhan. Saya sampai mengunduh lagu Dira Sugandi yang menyanyikan ulang lagu daerah asal Flores, judulnya IE. Lagu tersebut menjadi backsound oenutup acara ring of fire yang saya tonton. Saya sungguh terbawa suasana. Lagu IE ini adalah lagu mengenai suara burung yang indah di pedalaman hutan Flores.

Bougainvillea is all aroung

Bougainvillea is all aroung

Sejak saat itu, saya tau saya harus ke Flores. Saya ingin mengunjungi dan memahami masyarakat Flores. Berkenalan secara mendalam dengan mereka. Saya juga ingin melihat langsung keindahan Flores.

Setahun berselang sejak terakhir saya menyaksikan acara tersebut. Seperti biasa saya akan menyusun sebuah perjalanan tahunan yang saya gunakan untuk kabur dari rutinitas kerja. Tahun ini saya ingin perjalanan yang lebih bermakna. Saya ingin meninggalkan hati saya di sebuah tempat untuk kembali lagi ke sana. Lalu saya ingat seorang teman saya yang pernah melakukan perjalanan ke Flores beberapa tahun lalu dan saya sungguh terpana melihat hasil fotonya. Oke, tahun ini harus ke Flores!!

Riset dimulai. Mulai dari peta Pulau Flores. Hal ini selalu saya lalukan. Saya juga terbiasa membeli peta besar untuk membantu arah perjalanan saya. Hal ini juga saya lakukan untuk menghindari kesalahan informasi yang diberikan internet (banyak tuh contohnya! Beberapa travel agent abal-abal bikin trip ke suatu daerah eh salah masang fotonya. Zonk banget kan.). Lagi pula, saya merasa wajib memahami wilayah Negara kita yang super luas. Malu kan kalo tiba-tiba ditanyain orang luar negeri di mana itu Maumere dan saya ga tau (bahkan salah satu senior saya ada yang pernah berbincang sama koleganya di telpon “Hah kamu di Mamuere ya sekarang?? Itu kan jauuh bgt di Maluku” dalem hati saya langsung batin “Helloooooo Mas!! Maumere itu di Flores kali..” kirain dia tau lokasinya di mana karena ngomong jauhnya meyakinkan banget..). Jadi saran saya, biasakanlah untuk melakukan riset singkat tentang lokasi yang ingin kalian kunjungi. Jangan sampai salah persepsi dan salah mempersiapkan diri.

Ada beberapa blog yang saya baca. Beberapa penulisnya melakukan perjalanan overland (menjelajahi daratan), lalu saya membandingkan dengan peta yang saya punya untuk estimasi lama perjalanan. Setelah menghitung waktu tempuh perjalanan dan daftar semua lokasi yang saya mau, ternyata butuh 10 hari perjalanan.. sisa cuti tahun itu tinggal berapa saudara-saudara?? Sisa 4 hari!! Hahahaha. Untuk perjalanan ini, saya perlu cuti 5 hari secara keseluruhan. Huhuhuuu.. sulit.. tapi saya tetap optimis untuk merencanakan perjalanan ini.

Saya mulai menghubungi pihak operator kapal untuk sailing trip nya. Hasil penyelusuran saya, dengan 10 hari perjalanan, saya bisa melakukan 6 hari overland trip dan 4 hari sailing trip. Sailing trip ini sudah ada operatornya. Saya harus memastikan berapa biayanya untuk estimasi biaya. Bulan januari saya hubungi, katanya ombak masih kencang mbak, nanti maret dikabarin lagi buat estimasi biaya terbaru karena BBM baru naik (terima kasih pemerintah, mafia minyak dan para trader minyak yang membuat Negara kita harus menaikkan harga BBM. Kebijakan kalian akhirnya mempengaruhi perjalanan saya. *jadi serius*). Okelah demi kesejahteraan nelayan, gapapa deh naik.. mari menabung lebih banyak. Hahahaha. Eh sampe bulan Maret, saya tidak kunjung diberikan kabar. Akhirnya saya hubungi kembali. Tapi tetap tidak bisa diberikan kepastian mengenai harga. Ah udah ah cari yang lain. Akhirnya… saya berakhir dengan TRAVELMATE ID. Travel ini akan mengadakan trip ke flores dan sudah pernah mengadakan sailing trip. Saya telpon lah. Nama owner nya Bang Malik. Setelah berbincang sedemikian lama, akhirnya Bang Malik bersedia bantuin saya bikin itinerary yang sesuai sama kondisi lapangan. Awalnya saya mau berangkat dari Lombok dan berakhir di Maumere. Tapi akhirnya atas saran beliau, diubah menjadi berawal di Maumere dan berakhir di Lombok. Yeay!! Alhamdulillah ya.. dan ternyata lagi, Bang Malik ini kenal sama temen-temen saya di Makassar karena pernah main ke sana dan ditemenin ke pulau seberang. Emang ya rejeki ga ke mana..

Trip jauh kaya gini juga tidak mudah untuk menemukan anggota trip yang sejalan, sevisi, satu gaya dan yang penting satu jadwal dan cocok budget-nya. Setelah drama di sana sini. Akhirnya akan overland bersama empat teman saya dan sailing trip ditambah dua teman saya lagi yang akan bertemu di Labuan Bajo. Tebak berapa biaya seorang untuk total overland dan sailing trip di luar pesawat? Cukup 4.4 juta saja. Saya pikir ini murah banget dibanding harus ke raja ampat yang habis puluhan juta.

my overland trip mate :)

my overland trip mate 🙂

Tapi kemudian, masalah cuti belum selesai. Ditambah dengan permasalahan jadwal trip yang sulit diwujudkan karena melewati tanggal akhir bulan yang akan susaaah sekali ditinggalkan di kantor saya. Bos pasti ga akan ngasih apapun alasannya kecuali force major. Saya hampir menyerah sampai akhirnya saya dapet kabar kalau saya lolos assessment salah satu bank untuk penempatan pusat di Jakarta. Mulai kerja awal Juni. Pas banget kan. Abis resign, jalan-jalan dulu, baru mulai kerja lagi. Hehehehe. Ga pake mikir lama, saya ambil tawarannya. Toh di Jakarta juga bisa ketemu ibu bapak setiap hari..

Petualangan dimulai!

IMG_1843

Kemana saja kami selama di Flores? Banyak banget!! Saya cukup ambisius kali ini. saya tidak mau melewatkan satu pun lokasi yang perlu dikunjungi. Walaupun akhirnya ada yang terlewat tapi itu loaksinya di dekat kota Labuan Bajo, jadi kalaupun saya ingin mengulangi, saya tinggal terbang sendiri ke Labuan Bajo. Flores ini landscape nya kelewat cantik! Banyak versi yang menceritakan asal mulai nama flores. Flores dalam bahasa Portugis yang berarti bunga. Bunga apanya ini? apa bunga secara harfiah atau analogi terhadap sesuatu hal yang secantik bunga? Ada beberapa pihak yang berpendapat Flores ini diberikan Bangsa Portugis sebagai bangsa asing yang pertama ke pulau ini karena menemukan banyak bunga bougenville di sekitar Maumere. Ada juga yang bilang, bunga ini mengacu pada keindahan bawah laut Flores yang menyerupai hamparan kebun bunga. Yang mana saja menurut saya bisa benar karena memang Flores secantik itu. Mulai dari maumere kami menjelajahi Bukit Nilo dan melihat pulau Lembata di kejauhan (cantik ini Lembata, oke disimpen buat selanjutnya sambil ke Larantuka, Lamarela, Alor, Rote.. hahahaha), mengarah ke Moni untuk melihat matahari terbit khas Kelimutu, lalu ke Ende untuk singgah di Rumah Pengasingan Bung rKarno, kemudian mengarah ke utara untuk melihat kecantikan gugusan kepulauan Riung 17 Pulau, lalu ke selatan untuk mendaki menuju Waerebo, kemudian mengejar kapal untuk menyebrang ke pulau Kanawa kemudian diteruskan dengan 4 hari di atas kapal untuk berlayar menuju Lombok. Ah.. saya sudah membayangkan akan seperti apa menyenangkannya.. Masing-masing destinasi akan saya ceritakan dalam postingan terpisah ya.

looks like, i left my heart there 🙂