I Left My Heart at Wae Rebo!

IMG_1781

— catatan perjalanan Flores Overland —

(Spoiler, mungkin ini akan jadi tulisan saya yang paling panjang seputar perjalanan di Flores)

Jam di mobil kami menunjukkan pukul 15.30 ketika memasuki Kota Ruteng. Agenda kami di kota ini cukup padat. Saya harus ke ATM untuk menyelesaikan beberapa urusan pembayaran akhir bulan. Kami perlu mampir ke rumah makan untuk membeli ransum makan malam karena di desa tujuan kami berikutnya tidak ada rumah makan. Kami juga harus ke swalayan terdekat untuk membeli perbekalan. Sedangkan kami harus mengejar matahari sebelum tenggelam untuk sampai ke Cancar. Apabila sampai Cancar matahari sudah terlanjur turun, kami tidak bisa melihat apapun.

Setelah semua urusan di kota selesai, kami segera mengarah ke Cancar. Sebenarnya sepanjang perjalanan di Kota Ruteng ini cukup indah. Banyak lokasi sawah-sawah yang cantik. Tapi sayang kami harus mengejar matahari sebelum tenggelam. Setelah adegan ngebut-ngebutan oleh pembalap handal kami, Bang jodi, akhirnya sampai juga di Cancar.

Cancar, Ruteng, Flores

Cancar, Ruteng, Flores

Apa sih Cancar ini? Jadi Cancar ini terkenal dengan lokasi pesawahan yang berbentuk sarang laba-laba. Sawah di beberapa daerah lainnya di Indonesia, biasanya berbentuk kotak, persegi atau berundak-undak dengan bentuk yang jelas entah itu kotak atau persegi panjang. Tapi di Cancar ini lain, bentuknya seperti pizza bulat yang dipotong segi tiga sama kaki. Kata Marsya, Cancar ini kaya setting lokasi syuting Lord of the Rings bagian Middle Earth. hahahaha.

IMG_0320

Untuk sampai di Cancar, dari kota Ruteng, perlu perjalanan sekitar 45 menit ke kaki bukit kemudian mendaki sebentar sekitar 15 menit. Ga terlalu jauh kok. Cuma agak curam. Itu yang bikin ngosngosan. Sampe di atas… taraaaaaa… ajaib banget..

DSCF0671

Selesai dari Cancar, matahari semakin redup, kami segera melaju ke Denge. Perjalanan kami masih sangat jauh ditambah Bang Jodi sakit gigi. Well, kami cuma berharap bisa sampe Denge dengan selamat. aamiin.

Perjalanan menuju Denge ini agak spooky. sepi. hutan semua. Sampe di suatu titik di mana saya pengen pipis banget tapi pastinya ga ada kamar mandi. Akhirnya memberanikan diri untuk pipis di balik batu besar. Apa yang bikin takut? ular saudara-saudaraaa. mana itu malem-malem gelap di tengah hutan. Untungnya tidak sepanjang jalan kami melewati hutan. Kami sempat melewati desa kecil yang sedang ada hajatan. Kami berhenti sebentar karena ingin melihat bintang bertaburan. Kami penasaran pengen foto milky way. Akhirnya Dika, kembali naik ke atap mobil untuk mencoba peruntungan mengambil gambar milky way. Saya bagian telpon ke teman saya di Makassar yang lagi trip juga ke selayar. Nanya teknis settingan kamera supaya bisa nangkep si milky way. Ternyata susah. hahahaha.

Perjalanan pun dilanjutkan. Saya tidak ingat banyak karena tertidur. Seingat saya, Bang Josi sempat beberapa membanting stir menghindari lobang dan jurang. Hujan lebat di beberapa titik dan pembicaraan tidak terlalu jelas dengan teman Bang Jodi.

Akhirnya pukul 11 malam, kami sampai di penginapan di Denge. rasanya saya ingin sujud sukur. Pengen banget mandi dan naro punggung, sekedar meluruskan pinggang dan kaki. Kami akhirnya makan malam setelah sekian lama menanti sampai di lokasi penginapan. Ditemani Pak Blasius, pemilik penginapan, kami makan makanan yang kami beli di Kota Ruteng tadi sore. Beliau bercerita medan ke Wae Rebo dan berbagai tips untuk mendaki ke sana. Beliau ini adalah seorang putra daerah Wae Rebo yang mengembangkan sarana pendukung wisatawan di Desa Denge. Desa Denge ini adalah desa terakhir yang bisa dicapai mobil sebelum akhirnya para pengunjung harus berjalan kaki sampai ke Wae Rebo. Pak Blasius bercerita bahwa medan cukup berat dan kami harus bangun pagi-pagi supaya sempat untuk turun ke bawah sebelum sore. Pada awalnya kami berniat untuk menginap di atas, tapi karena ingin mengejar Pulau Kanawa, kami harus mengorbankan menginap di Wae Rebo dan melakukan perjalanan satu hari.

Beliau bercerita bahwa medan sangat licin dan banyak pacet. Saya sempat begidik. Alam, salah satu peserta trip, adalah orang yang paling suka gombal, kalo ngomong selalu diserempetin masalah hati, menimpali Pak Blasius “Banyak ga pak pacet nya?” Kata Pak Blasius “Ga papa kok pacetnya nanti kalo udah puas juga dia jatuh sendiri, kalian juga harus nemuin pacet, pacet batin, supaya ngisep terus di hati” eaaaaaa yak eeee.. kenapa dia jadi ikutan gombal. hahahaha.

Setelah makan dan mandi, kami pun tidur, bersiap untuk perjalanan jauh esok hari. Kami harus bangun pagi-pagi. Esoknya, pukul 5.30 saya sudah bangun dan bersiap. Pak Blasius sudah membuatkan kami sarapan. Pukul 6.30 kami bersiap untuk naik. Persiapan kami sudah sangat lengkap, mulai dari coklat penambah energi, madu, air mineral, permen sampe sepatu olah raga (yang kemudian saya sesali karena licin bangeeet jadinya kalo pake running shoes. hahahahaha). Tebak, guide kami pake apa? cuma SENDAL JEPIT tanpa bawa apa-apa lagi. Luar biasa ya..

Perjalanan dimulai. Pendakian dari Desa Denge sampe ke pos satu lumayan panjang, mendaki terus tanpa ada bonus track datar. Sulit rasanya menyesuaikan langkah dengan sang guide. Napas saya memburu. Sampai di pos 1 kami beristirahat sebentar untuk minum. Bersama grup kami, ada sepasang wisatawan asing yang juga akan naik ke Wae Rebo.

Pos satu, muka masih pada sumringah..

Pos satu, muka masih pada sumringah..

Pos satu menuju pos dua ini lebih sulit lagi. Kenapa? semakin masuk ke dalam, hutan semakin rapat, tanah semakin licin dan diselingin beberapa kali gerimis, dan akhirnya pacet itu pun menyerang saya. hahahaha. padahal kaki udah ketutup rapet. tetep aja ada dua pacet yang berhasil masuk ke dalem kaos kaki.

Pos dua ke pos tiga sedikit lebih mudah, banyak bonus track di beberapa titik dan saya bisa melihat sudah sejauh apa perjalanan. hope management penting untuk masa seperti ini. saya butuh harapan untuk bisa terus naik. hahahaha.

Pos Dua, mau senyum aja kudu dipaksa dulu. Energi udah abis.. hahaha

Pos Dua, mau senyum aja kudu dipaksa dulu. Energi udah abis.. hahaha

Ini dia bonus yang akan kamu dapatkan ketika berhasil mencapai pos 2.

Ini dia bonus yang akan kamu dapatkan ketika berhasil mencapai pos 2.

Jalur mulai datar dan berkelok-kelok mengikuti bentuk gunung yang kami sisiri. Lama-lama di kejauhan, di sebuah tikungan, Kerucut-kerucut hitam mulai terlihat samar-samar di balik awan. yeaaaaaaaaay itu Wae Rebo udah keliatan. Saya sedikit mempercepat langkah.

Sampai di pos terakhir, kami perlu diam sebentar untuk membunyikan kentongan sebagai penanda ke desa bahwa ada pengunjung, kalau di bawah sudah siap, mereka akan membunyikan balasan dan kami baru boleh turun. Lumayan buat istirahat dan ngatur napas.

Semacem pintu masuk, para tamu harus membunyikan kelontong agar didengar warga desa, apabila diijinkan, maka tamu boleh masuk  ke desa.

Semacem pintu masuk, para tamu harus membunyikan kelontong agar didengar warga desa, apabila diijinkan, maka tamu boleh masuk ke desa.

Lalu kami berjalan sedikit dan taraaaaaaaaa. Terhampar di depan kami, tujuh rumah adat Wae Rebo yang ikonik. Saya dan Marsya langsung duduk di depan rumah paling besar. Mau copot rasanya kaki kami. Total perjalanan kami dari Desa Denge sampai  ke Wae Rebo sekitar 3 jam 30 menit, pace yang lumayan cepat untuk pemula. Untungnya kami ga sampe empat jam lebih.

Maafkan muka kami ya pemirsa.. ga bisa dikontrol. capek banget..

Maafkan muka kami ya pemirsa.. ga bisa dikontrol. capek banget..

Seluruh tamu diarahkan ke rumah yang paling besar. Rumah ini adlaah rumah kepala desa yang digunakan untuk menerima tamu desa. Beliau berbicara sebentar dalam bahasa Manggarai yang tidak kami pahami. Kemudian kami diarahkan menuju salah satu rumah yang digunakan untuk singgah para tamu. Di rumah ini para tamu akan makan dan menginap.

Kami langsung berkeliling Wae Rebo. Ngapain? cari spot foto dong.. hehehehe.

Majestic Wae Rebo

Majestic Wae Rebo

Sebagian besar warga di Waerebo ini berkebun kopi. Kopinya enak, cenderung light dan ga sepahit kopi Sumatra dan tidak seasam kopi Toraja. Rumah adat Wae Rebo disebut Mbaru Niang. Jumlahnya ada tujuh dan tidak dapat ditambah. Dalam satu rumah, terdapat beberapa keluarga yang menempati rumah tersebut. Mereka berbagi kamar-kamar dengan keluarga lain. Dalam satu rumah kerucut, terdapat tiga tingkat. Lantai paling dasar digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Lantai kedua untuk menyimpan hasil kebun dan peralatan rumah. Lantai paling atas digunakan untuk menyimpan sesaji.

Akhirnya, Mas Katon Bagaskara, saya tau bagaimana rasanya nyanyi Negeri di Awan :)

Akhirnya, Mas Katon Bagaskara, saya tau bagaimana rasanya nyanyi Negeri di Awan 🙂

Cerita di balik pelestarian rumah adat Wae Rebo ini cukup heroik. Sampai tahun 2010, Mbaru Niang ini belum banyak diketahui orang. Tidak banyak rekam jejak tentang Wae Rebo di dunia maya. Sampai salah satu arsitek, Yori Antar memulai misi menemukan kembali Wae Rebo. Saat itu, hanya tersisa 4 Mbaru Niang yang berdiri, tiga sisanya dalam keadaan rusak berat. Yori kemudian memutuskan untuk membuat gerakan Rumah Asuh untuk mencari donatur agar rumah-rumah tersebut kembali berdiri. Misinya berhasil, tahun 2012, Unesco menjadikan Wae Rebo sebagai salah satu World Heritage.

Ibu-ibu Waerebo dan biji kopi legendaris, Flores Bajawa.

Ibu-ibu Waerebo dan biji kopi legendaris, Flores Bajawa.

Mbaru Niang ini juga sebenarnya menganut konsep yang sama dengan cara membagi sawah di Cancar. Menurut ibu yang saya temui di kaki bukit Cancar, Suku Manggarai membagi segala sesuatu yang mereka punya dengan cara mengiris berbentuk segitiga sama kaki, alih-alih membagi dengan cara kotak persegi.Menurut mereka pembagian ini akan lebih adil.

Cuaca sedang tidak terlalu bersahabat dengan kami, beberapa kali kami harus berteduh karena hujan kembali mengguyur Wae Rebo. Setelah selesai bermain bersama anak-anak Wae Rebo (seru banget mereka, nyanyi, makan coklat, gelendotan, minta gendong.. banyak lah..), foto-foto, keujanan, akhirnya saya makan, jangan khawatir, semua tamu yang mengunjungi Wae Rebo akan disediakan makanan khas. Entah apa namanya, banyak macamnya mulai dari lauk, sayur dan kerupuk. Yang pasti semuanya enaaaaak.

Mana giginya??? (malah nunjukin choki choki)

Mana giginya??? (malah nunjukin choki choki)

Ini anak-anak tourist friendly sekali. pangku, nyanyi, minta gendong, ga pake malu-malu

Ini anak-anak tourist friendly sekali. pangku, nyanyi, minta gendong, ga pake malu-malu

Sayang kami harus segera turun karena kami harus mengejar perjalanan menuju Labuan Bajo. Para guide juga tidak menyarankan untuk melakukan perjalanan menembus hutan Wae Rebo ketika hari terlalu sore. Maka kami segera bergerak turun. Perjalanan turun tidak juga menjadikan track lebih bersahabat. Hujan gerimis semakin sering turun, menjadikan track kami sangat licin. Harus menggunakan bantuan tongkat kayu supaya tidak jatuh tergelincir.

saran, bawalah trekpole atau kayu yang kokoh buat pegangan. disclaimer : penuh pacet!!

saran, bawalah trekpole atau kayu yang kokoh buat pegangan. disclaimer : penuh pacet!!

Perjuangan kembali kami lalui.. kaki udah tremor, pegel, mau copot rasanya.. akhirnya sampe lagi di Desa Denge sekitar jam 5 sore. Kaki saya benar-benar tidak bisa digerakkan. hahahahahaha. Saya dan Marsya lebih banyak menyeret kaki dibandingkan berjalan dengan semestinya. Tapi yang pasti, perjalanan jauh dan melelahkan ini tidak sia-sia. Saya tidak pernah menyangka akan bisa menginjakkan kaki di sana dan bermain dengan anak-anak Wae Rebo!!

Wae rebo..

Wae rebo..

Wae rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Wae rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Karena jauh dan susah mau ke sini, jangan pernah malu-malu foto all out. hahahaha

Karena jauh dan susah mau ke sini, jangan pernah malu-malu foto all out. hahahaha

we made it!!

we made it!!

Terima kasih ya Allah atas kesempatannya bisa liat negeri indah banget gini.. ga nolak kalo ada yang bayarin ke sini lagi. hehehe

Terima kasih ya Allah atas kesempatannya bisa liat negeri indah banget gini.. ga nolak kalo ada yang bayarin ke sini lagi. hehehe

Pengalaman ini yang akhirnya membuat saya mengadakan program #BukuBuatWaerebo. Saya tidak sampai hati membayangkan mereka harus berjalan sejauh ini untuk belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Desa Denge yang menjadi desa terakhir tumpuan mereka, harus ditempuh dengan medan yang tidak mudah dan waktu tempuh yang tidak sebentar.

Saya benar-benar meninggalkan hati saya di sana. Saya akan kembali lagi ke Waerebo untuk langkah yang lebih nyata.

Akhirnya jam 17.30 sampe penginapan lagi dengan keadaan kaki ga bisa digerakin. cuma bisa diseret. hahahaha

Akhirnya jam 17.30 sampe penginapan lagi dengan keadaan kaki ga bisa digerakin. cuma bisa diseret. hahahaha

Berkelana di Riung 17 Pulau, Flores

Flores, Overland!

Flores, Overland!

Bang Jodi (driver dan guide lokal andalan kami) melaju kendaraan kami membelah Pulau Flores dari titik selatan di Ende menuju ke Riung di Utara. Pada awalnya, Bang Malik sebagai perantara saya dengan Bang Jodi, meyakinkan kembali apa benar kami ingin mengunjungi Riung karena lokasinya yang jauh ada di utara dan jarang dikunjungi wisatawan karena jalurnya yang tidak sejalan dengan tujuan lainnya.

Jadi untuk melakukan perjalanan overland di Flores, jalur biasanya adalah jalur selatan karena sebagian besar objek terletak di daerah selatan. Mulai dari Labuan Bajo – Manggarai – Ruteng – Wae Rebo – Ende – Kelimutu atau sebaliknya.

Hasil searching saya menunjukkan bahwa di sebelah utara Flores juga ada surga tersembunyi untuk dijelajahi yaitu Riung. Riung terkenal dengan gugusan kepulauannya yang luar biasa cantik dan underwater yang masih perawan. well, sebagai seorang freediver, jiwa saya tergugah buat liat underwaternya. Jadi saya persisten sekali untuk memasukkan Riung di itinerary overland kali ini.

Seingat saya, perjalanan dari Ende menuju Riung adalah salah satu yang paling lama. Jam dua dari Ende dan sampe Riung sekitar jam 7 malam. Tapi, pemandangannya…. yang paling juara. Ini dia overland Flores yang sebenarnya. Kami benar-benar terhibur dengan pemandangan sepanjang perjalanan. Hampir setiap 500 meter sekali kami minta Bang Jodi untuk berhenti dan kami akan mengabadikan moment tersebut. Alhamdulillahnya, Bang Jodi cukup sabar. Bahkan ketika hujan turun pun kami tetap turun untuk mengambil gambar. sungguh dedikasi yang luar biasa kan. hahahaha.

Sampe naik ke atas kap mobil buat ngejar foto sunset di balik bukit dan pemandangan sabana!!

Sampe naik ke atas kap mobil buat ngejar foto sunset di balik bukit dan pemandangan sabana!!

ngejar foto ini nih..

ngejar foto ini nih..

in the middle of Ende and Riung

in the middle of Ende and Riung

Jam 7 malam kami sampai di penginapan. Lalu makan di tempat makan terdekat dari penginapan. Acara makan malam kali ini ditambah acara rapat dadakan karena mau ngubah itinerary. Kami ingin memasukkan Pulau Kanawa ke dalam tujuan destinasi sebelum sailing trip dimulai. Capek banget rasanya abis perjalanan panjang dan harus mikir. hahahaha. Selesai makan, kami tidur ga pake babibu. Soalnya besok janjian mau liat sunrise jam lima pagi. kalo bangun. aamiin.

Besoknya,
Saya dan Marsya (sahabat kuliah saya yang ikut trip ini), bangun agak terlambat. Dika, Bang Nopi dan Alam udah bangun duluan. Mereka semangat banget mau liat sunrise. hahahaha. Setelah jalan sekitar 20 menit, kami sampai di dermaga dan taraaaaaaaa sunrise di depan kami dan ternyata kami belum terlambat. yeaaay.. i can say, this is one of my best golden sunrise ever!!

warm sunrise at Riung, Flores

warm sunrise at Riung, Flores

IMG_0192

taken by ajeng karina sari

easy peasy morning

easy peasy morning

enjoy moment while it lasts :)

enjoy moment while it lasts 🙂

Matahari terbit rasanya selalu hangat. Kami duduk di dermaga sekitar satu jam dan merasa tidak pernah cukup tapi kami harus kembali ke penginapan untuk bersiap menjelajahi Riung hari ini.

Seperti apa sih Riung 17 Pulau? Riung ini termasuk dalam Taman Nasional yang terdiri dari 23 pulau kecil. Kenapa ya namanya 17 pulau? mungkin waktu didaftarin baru ditemuin 17 pulau. hehehe. Sebagian besar pulau di Riung ini tidak berpenghuni dan bentuknya berbukit. Ada Pulau Kalong, Pulau Ruton, Pulau Dua, Pulau Tiga, ga tau lagi apa amanya.. hahahaha. ga cukup satu hari menjelajahi Riung. menurut hitungan saya, mungkin butuh 3 hari full.

IMG_7028

Pulau-pulau di Riung ini cantik banget!!! landscape nya juara. kaya lukisan. gradasi pantai? jangan ditanya. Tapi arusnya cukup kenceng. Hati-hati ya kalo mau berenang di sana.

underwater view taken by dedika marlon

underwater view taken by dedika marlon

busy afternoon huh?  taken by dedika marlon.

busy afternoon huh? taken by dedika marlon.

taken by dedika marlon.

taken by dedika marlon.

taken by dedika marlon

taken by dedika marlon

Juaranya pulau apa? Pulau Ruton!! Sebenernya mirip sama Pulau Kelor di Kepulauan Komodo, tapi ini versi lebih sepi dan lebih jelas gradasi pantainya. Well, let the pictures speak more than words 🙂

View from Pulau Ruton

View from Pulau Ruton

yang pasti, Riung 17 Pulau, worth to visit when you plan to trip to Flores!!

DSCF0522DSCF0503

with a view like this, who's need an escape?

with a view like this, who’s need an escape?

let me introduce to you, Ruton Island, Riung, Flores, Indonesia

let me introduce to you, Ruton Island, Riung, Flores, Indonesia

hail to positive buoyancy body!!

hail to positive buoyancy body!!

DSCF0454

say aaaa!

say aaaa!

freediving at Riung, Flores

freediving at Riung, Flores

cheese from underwater!!

cheese from underwater!!

taraaaa! Riung 17 Pulau!

taraaaa! Riung 17 Pulau!

the happy faces!

the happy faces!

you jump, i jump!

you jump, i jump!

taken by dedika marlon. he said, this is most enormous starfish he ever seen. well around 17.

taken by dedika marlon. he said, this is most enormous starfish he ever seen. well around 17.

DSCF0429

see you again Riung!!

see you again Riung!!

super gorgeous Indonesia!

super gorgeous Indonesia!

Tips :
1. Vegetasi di Riung ini sebagian besar adalah ilalang dan jenis tanaman rambat berduri. pake alas kaki yang proper ya.
2. Di sana hampir ga ada penduduk di pulau-pulaunya. Jadi, jangan nyampah ya. bawa lagi sampah mu.

Trip to Flores : Flores, Negeri yang Berbunga-bunga

Pulau Lembata dari Bukit Nilo Maumere. taken by ajeng karina sari.

Pulau Lembata dari Bukit Nilo Maumere. taken by ajeng karina sari.

Saya lupa bagaimana awalnya saya berkenalan dengan daerah ini. Tepatnya saya tidak ingat pasti apa yang membawa saya akhirnya bisa menjejakkan kaki di sana. Yang saya ingat, hanya adegan pada saat saya menonton documenter ring of fire yang menceritakan petualangan keluarga Tanzil pada saat menjelajahi Indonesia dengan motor mereka. Episode musim pertama mereka sangat berkesan. Mereka mencoba menakhlukkan gugusan kepulauan bagian Selatan Indonesia. Mulai dari Kupang sampai ke Jakarta. Saya tidak pernah absen untuk menyaksikan petualangan mereka. Bagian mana yang paling membekas? Pulau Flores dan Nusa Tenggara Timur secara keseluruhan. Saya sampai mengunduh lagu Dira Sugandi yang menyanyikan ulang lagu daerah asal Flores, judulnya IE. Lagu tersebut menjadi backsound oenutup acara ring of fire yang saya tonton. Saya sungguh terbawa suasana. Lagu IE ini adalah lagu mengenai suara burung yang indah di pedalaman hutan Flores.

Bougainvillea is all aroung

Bougainvillea is all aroung

Sejak saat itu, saya tau saya harus ke Flores. Saya ingin mengunjungi dan memahami masyarakat Flores. Berkenalan secara mendalam dengan mereka. Saya juga ingin melihat langsung keindahan Flores.

Setahun berselang sejak terakhir saya menyaksikan acara tersebut. Seperti biasa saya akan menyusun sebuah perjalanan tahunan yang saya gunakan untuk kabur dari rutinitas kerja. Tahun ini saya ingin perjalanan yang lebih bermakna. Saya ingin meninggalkan hati saya di sebuah tempat untuk kembali lagi ke sana. Lalu saya ingat seorang teman saya yang pernah melakukan perjalanan ke Flores beberapa tahun lalu dan saya sungguh terpana melihat hasil fotonya. Oke, tahun ini harus ke Flores!!

Riset dimulai. Mulai dari peta Pulau Flores. Hal ini selalu saya lalukan. Saya juga terbiasa membeli peta besar untuk membantu arah perjalanan saya. Hal ini juga saya lakukan untuk menghindari kesalahan informasi yang diberikan internet (banyak tuh contohnya! Beberapa travel agent abal-abal bikin trip ke suatu daerah eh salah masang fotonya. Zonk banget kan.). Lagi pula, saya merasa wajib memahami wilayah Negara kita yang super luas. Malu kan kalo tiba-tiba ditanyain orang luar negeri di mana itu Maumere dan saya ga tau (bahkan salah satu senior saya ada yang pernah berbincang sama koleganya di telpon “Hah kamu di Mamuere ya sekarang?? Itu kan jauuh bgt di Maluku” dalem hati saya langsung batin “Helloooooo Mas!! Maumere itu di Flores kali..” kirain dia tau lokasinya di mana karena ngomong jauhnya meyakinkan banget..). Jadi saran saya, biasakanlah untuk melakukan riset singkat tentang lokasi yang ingin kalian kunjungi. Jangan sampai salah persepsi dan salah mempersiapkan diri.

Ada beberapa blog yang saya baca. Beberapa penulisnya melakukan perjalanan overland (menjelajahi daratan), lalu saya membandingkan dengan peta yang saya punya untuk estimasi lama perjalanan. Setelah menghitung waktu tempuh perjalanan dan daftar semua lokasi yang saya mau, ternyata butuh 10 hari perjalanan.. sisa cuti tahun itu tinggal berapa saudara-saudara?? Sisa 4 hari!! Hahahaha. Untuk perjalanan ini, saya perlu cuti 5 hari secara keseluruhan. Huhuhuuu.. sulit.. tapi saya tetap optimis untuk merencanakan perjalanan ini.

Saya mulai menghubungi pihak operator kapal untuk sailing trip nya. Hasil penyelusuran saya, dengan 10 hari perjalanan, saya bisa melakukan 6 hari overland trip dan 4 hari sailing trip. Sailing trip ini sudah ada operatornya. Saya harus memastikan berapa biayanya untuk estimasi biaya. Bulan januari saya hubungi, katanya ombak masih kencang mbak, nanti maret dikabarin lagi buat estimasi biaya terbaru karena BBM baru naik (terima kasih pemerintah, mafia minyak dan para trader minyak yang membuat Negara kita harus menaikkan harga BBM. Kebijakan kalian akhirnya mempengaruhi perjalanan saya. *jadi serius*). Okelah demi kesejahteraan nelayan, gapapa deh naik.. mari menabung lebih banyak. Hahahaha. Eh sampe bulan Maret, saya tidak kunjung diberikan kabar. Akhirnya saya hubungi kembali. Tapi tetap tidak bisa diberikan kepastian mengenai harga. Ah udah ah cari yang lain. Akhirnya… saya berakhir dengan TRAVELMATE ID. Travel ini akan mengadakan trip ke flores dan sudah pernah mengadakan sailing trip. Saya telpon lah. Nama owner nya Bang Malik. Setelah berbincang sedemikian lama, akhirnya Bang Malik bersedia bantuin saya bikin itinerary yang sesuai sama kondisi lapangan. Awalnya saya mau berangkat dari Lombok dan berakhir di Maumere. Tapi akhirnya atas saran beliau, diubah menjadi berawal di Maumere dan berakhir di Lombok. Yeay!! Alhamdulillah ya.. dan ternyata lagi, Bang Malik ini kenal sama temen-temen saya di Makassar karena pernah main ke sana dan ditemenin ke pulau seberang. Emang ya rejeki ga ke mana..

Trip jauh kaya gini juga tidak mudah untuk menemukan anggota trip yang sejalan, sevisi, satu gaya dan yang penting satu jadwal dan cocok budget-nya. Setelah drama di sana sini. Akhirnya akan overland bersama empat teman saya dan sailing trip ditambah dua teman saya lagi yang akan bertemu di Labuan Bajo. Tebak berapa biaya seorang untuk total overland dan sailing trip di luar pesawat? Cukup 4.4 juta saja. Saya pikir ini murah banget dibanding harus ke raja ampat yang habis puluhan juta.

my overland trip mate :)

my overland trip mate 🙂

Tapi kemudian, masalah cuti belum selesai. Ditambah dengan permasalahan jadwal trip yang sulit diwujudkan karena melewati tanggal akhir bulan yang akan susaaah sekali ditinggalkan di kantor saya. Bos pasti ga akan ngasih apapun alasannya kecuali force major. Saya hampir menyerah sampai akhirnya saya dapet kabar kalau saya lolos assessment salah satu bank untuk penempatan pusat di Jakarta. Mulai kerja awal Juni. Pas banget kan. Abis resign, jalan-jalan dulu, baru mulai kerja lagi. Hehehehe. Ga pake mikir lama, saya ambil tawarannya. Toh di Jakarta juga bisa ketemu ibu bapak setiap hari..

Petualangan dimulai!

IMG_1843

Kemana saja kami selama di Flores? Banyak banget!! Saya cukup ambisius kali ini. saya tidak mau melewatkan satu pun lokasi yang perlu dikunjungi. Walaupun akhirnya ada yang terlewat tapi itu loaksinya di dekat kota Labuan Bajo, jadi kalaupun saya ingin mengulangi, saya tinggal terbang sendiri ke Labuan Bajo. Flores ini landscape nya kelewat cantik! Banyak versi yang menceritakan asal mulai nama flores. Flores dalam bahasa Portugis yang berarti bunga. Bunga apanya ini? apa bunga secara harfiah atau analogi terhadap sesuatu hal yang secantik bunga? Ada beberapa pihak yang berpendapat Flores ini diberikan Bangsa Portugis sebagai bangsa asing yang pertama ke pulau ini karena menemukan banyak bunga bougenville di sekitar Maumere. Ada juga yang bilang, bunga ini mengacu pada keindahan bawah laut Flores yang menyerupai hamparan kebun bunga. Yang mana saja menurut saya bisa benar karena memang Flores secantik itu. Mulai dari maumere kami menjelajahi Bukit Nilo dan melihat pulau Lembata di kejauhan (cantik ini Lembata, oke disimpen buat selanjutnya sambil ke Larantuka, Lamarela, Alor, Rote.. hahahaha), mengarah ke Moni untuk melihat matahari terbit khas Kelimutu, lalu ke Ende untuk singgah di Rumah Pengasingan Bung rKarno, kemudian mengarah ke utara untuk melihat kecantikan gugusan kepulauan Riung 17 Pulau, lalu ke selatan untuk mendaki menuju Waerebo, kemudian mengejar kapal untuk menyebrang ke pulau Kanawa kemudian diteruskan dengan 4 hari di atas kapal untuk berlayar menuju Lombok. Ah.. saya sudah membayangkan akan seperti apa menyenangkannya.. Masing-masing destinasi akan saya ceritakan dalam postingan terpisah ya.

looks like, i left my heart there 🙂